Feeds:
Posts
Comments

Suryadarma Ali meminta kepada seluruh jamaah haji Indonesia untuk mendoakannya, agar dapat melaksanakan tugasnya sebagai Menteri Agama, yang menurutnya jauh lebih berat daripada saat menjabat Meneg Koperasi dan UKM. Hal itu dikemukakan ketika berbicara dihadapan jamaah calon haji kloter 35 asal Klaten Senin (2/11) di asrama Haji Donohudan Boyolali. Menag yang didampingi tujuh pejabat eselon I (Dirjen Pendis, Dirjen Bimas Islam, Dirjen Haji, Dirjen Bimas Hindu, Dirjen Bimas Budha, Irjen dan Kapuslibang) dan beberapa wartawan untuk selanjutnya membuka konferensi studi Islam di Balaikota Solo

Pada kunjungan singkatnya Menag mengemukakan, setiap jamaah haji boleh dipastikan akan menghadapi kesulitan ketika berada di Tanah Suci. “Sekecil apapun setiap jamah haji tidak dapat menghindarinya, seperti makan atau mandi harus antri, menghadapi kemacetan jalan di Makkah,” jelasnya.

Untuk itulah, setiap jamaah harus menumbuhkan sikap toleransi yang tinggi agar tidak terjadi gesekan sesama jamaah. Makanya, kalau mandi tidak perlu berlama-lama, jangan disamakan di rumah sendiri, karena harus bergantian dengan yang lain,” ujarnya seraya mendoakan agar seluruh jamaah haji Indonesia bisa melaksanakan ibadah selama di Tanah Suci dengan lancar aman dan meraih haji mabrur.

Ketika meninjau asrama haji Donohudan, Menag mengaku kagum dengan kelengkapan sarana dan fasilitas asrama yang cukup representatif. Selain itu, dia yakin jika pelayanan haji di Solo cukup bagus, karena hingga saat ini tidak ada keluhan dari jamaah.

Sementara itu, Ketua PPIH Embarkasi Solo Masyhudi menjelaskan tentang kondisi kesehatan jamaah calon haji yang diberangkatkan melalui embarkasinya cukup memprihatinkan karena 6.288 orang tergolong resti dari 33.136 calhaj. Namun dia bersyukur karena pelayanan kesehatan di asrama haji Donohudan lebih baik dibanding tahun lalu, terutama dengan diperluasnya kapasitas rawat inap di poliklinik embarkasi.(H. Akhmad Suaidi)

Melihat ke Makam Rasulullah

Untuk saat-saat ini jemaah calon haji yang berziarah ke makam Rasulullah dapat melihatnya langsung karena kisi-kisi yang menutupinya dibuka oleh aparat yang menjaga makam nabi itu. Selain makam Rasullullah juga bisa pula dilihat makam Abu Bakar Ass-siddiq dan Umar Bin Khottab yang berada di sisi makam nabi.

Alamsyah Hanafiah, jemaah Indonesia yang berkesmpatan melihat langsung makam pembawa ajaran Islam tersebut menandaskan, dengan melihat langsung makam Rasulullah semakin mendekatkan secara psikologis antara nabi dan umatnya.

Makam tersebut lanjut Alamsyah menjadi bukti konkrit bagi dirinya akan kebenaran nabi dan ajaran yang dibawanya. Karena selama ini yang dia dengar hanyalah cerita dari masa lalu. Dengan melihat langsung makam nabi, ada gambaran baginya tentang sosok nabi tersebut sehingga menambah keyakinan tentang ajaran yang dibawanya.

Makam rasululloh ini, terletak dibagian sebelah kiri masjid, dan dahulunya merupakan kamar pribadi Rasulullah SAW dan isterinya. Rasulullah SAW dimakamkan di dalam kamar yang tetap dalam kondisinya seperti semula, sampai pada tahun 90 H, kamar tersebut dijadikan sebagai bagian dari masjid.

Kemudian di sekeliling makam yang itu dibangun tembok berbentuk segi lima pada masa Khalifah al Walid dari Dinasti Umayyah, agar tidak serupa dengan kabah yang berbentuk persegi empat, sehingga tidak dikhawatirkan untuk dijadikan sebagai qiblat shalat.
Orang pertama kali membuatkan penutup bagi makam itu adalah Abdullah ibn Abi al Haija, salah seorang pemimpin Dinasti Fathimiyah dari Mesir. Pada tahun 557 H, dibuatkan penutup dari logam yang ditanam disekitar Makam Nabi SAW, agar tidak terjadi pencurian atas jasad nabi. Tahun 668 H, dibangun kisi-kisi penutup disekitar makam, dan termasuk rumah. Fathimah , juga dimasukkan didalamnya. Kisi-kisi tersebut memiliki empat pintu, yang keadaannya tidak ada perubahan sampai saat ini. (MA Effendi, Depag)

Silahkan baca juga artikel bermanfaat di bawah ini:

2. Ziarah Ke Masjid Nabawi Wajibkah dalam Haji ?

3. Koreksi Seputar Amalan di Musim Haji

 

Pengalaman haji

Kisah Kejujuran saat musim haji 1430H

Kejujuran masih terpelihara dengan baik dalam kehidupan masyarakat berhaji dan kehidupan di Tanah Suci. Bahwa terjadi tindak kriminal, hal itu sama sekali tidak mencerminkan keadaan yang menakutkan dalam pelaksanaan rukun Islam kelima. Karena tindak kejahatan sangat sedikit dan tidak mewakili jemaah haji yang sedemikian massal.

Kejujuran ditunjukkan jemaah asal Turki saat menemukan bungkusan amplop dalam tas keresek yang diikat karet di lingkungan masjid di wilayah Shisya, Selasa (17/11). Setelah dicek, dalam amplop tersebut terdapat uang RS 1.500 atau sekitar Rp 5 juta.

Saat itu, seorang penceramah asal Turki sedang berpidato menjelang salat zuhur di masjid. Tiba-tiba, jemaah yang menemukan amplop tersebut maju ke depan mimbar dan menyerahkan amplop tersebut kepada sang juru dakwah. Saat waktu zuhur kurang lima menit, pendakwah ini mengumumkan bahwa ditemukan uang dalam amplop yang dibungkus plastik.

“Barang siapa yang merasa kehilangan dipersilakan menghubungi dirinya serta jemaah asal Turki yang menemukannya, dengan membawa barang bukti bahwa dirinya kehilangan,” kata juru dakwah tersebut.

Tidak seorang pun jemaah Masjid Shisya yang merasa kehilangan. Dua orang jemaah Indonesia yang duduk di depan kemudian ikut meneliti temuan jemaah Turki itu. Ternyata, amplop yang ditemukan ada stempel jemaah Jawa Timur yang menunjukkan bahwa uang tersebut adalah biaya “living cost”.

Karena waktu sudah masuk, azan zuhur pun berkumandang. Tapi begitu azan selesai, jemaah Indonesia yang ikut meneliti barang temuan itu diminta mengumumkan dalam bahasa Indonesia. Maka jemaah asal Makassar, Sulawesi Selatan itu mengumumkan adanya temuan. Tapi, lagi-lagi tak seorang pun jemaah merasa kehilangan.

Akhirnya diputuskan, penceramah, penemu uang, ditemani Ketua Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia H. Mubarok menyerahkan uang temuan kepada Kepala Daerah Kerja Mekah H. Subakin. Kadaker kemudian meminta stafnya untuk menelusuri jemaah asal Surabaya yang kehilangan untuk diserahkan kepada pemiliknya.

Kasus kecopetan

Lain lagi kasus yang menimpa petugas haji di Madinah. Malam itu ia diantar sopir akan berbelanja di di Jln. King Fahd. Tiba-tiba dari sebelah kiri mobilnya digedor dengan keras oleh seseorang. Setelah dibuka, rupanya orang tersebut menawarkan ziarah, meskipun malam hari.

Saat mobil sebelah kiri depan digedor, tas yang ada di dalam dashboard depan diambil copet dari sebelah kanan. Tak disadari sama sekali, petugas ini dalam hitungan detik sudah kehilangan dompet itu. Anehnya, keesokan harinya, seorang jemaah asal Bangladesh datang ke Kantor Daerah Kerja Madinah. Ia mengantarkan tas yang berisi uang lebih dari RS 5.000 atau setara dengan Rp 13 juta.

Jemaah yang membawa tas tersebut bercerita, dirinya merasa aneh karena di dalam mobil bak terbuka miliknya tiba-tiba ada tas hitam. Setelah dibuka, tas tersebut ternyata berisi uang, ID card, dan flash disk, dan sejumlah surat penting yang lain. Karena terdapat ID card petugas haji Indonesia, jemaah Bangladesh itu selama berjam-jam mencari kantor Safarah Indonesia dan akhirnya menemukan Kantor Daker Madinah itu.

Penemu tas tersebut kemudian dipertemukan dengan petugas yang kehilangan tas. Sebelum menyerahkan tas itu, jemaah Bangladesh melakukan “tes”. “Apa yang ada dalam tas tersebut?” kata dia.

“Ada uang lebih dari RS 5.000, ada telefon seluler, ada id card, ada beberapa permen, dan ada telefon seluler,” kata petugas haji yang kehilangan sembari mulai optimis setelah seharian merasa bersalah karena kehilangan barang.

“Betul,” jawab jemaah Bangladesh. “Tapi masih ada barang penting lain, berupa flash disk. Berapa jumlahnya?” kata dia. Petugas haji yang kehilangan ini pun langsung teringat bahwa flsh disk yang ada di dalamnya berisi tiga buah. “Betul,” kata jemaah Bangladesh.

Maka jemaah Bangladesh itu pun menyerahkan tas kepada pemiliknya. Sebagai tanda terima kasih, petugas itu menyerahkan sejumlah uang kepada jemaah Bangladesh. Tapi ia tidak bersedia menerimanya. Karena mengembalikan harta kepada pemiliknya adalah kewajiban seorang Muslim.

Rupanya pencopet segera mengambil telefon di dalam tas tersebut, kemudian secara kilat melemparkan tas sisanya ke dalam mobil bak terbuka yang sedang terkena macet. Pencopet pun tidak mudah beraksi di Tanah Suci. Sebab saat ketahuan dia mencuri dan memiliki barang bukti, dia akan dihukum berat. Maka, begitu mengambil handphone dia langsung melemparkan tas yang berisi uang sekitar Rp 13 juta.

Begitulah, kejujuran masih terpelihara dengan baik di kalangan jemaah haji. Bahkan untuk memelihara kejujuran ini, pemerintah Arab Saudi memberikan sanksi keras kepada siapa pun yang mencoba tidak jujur. Akibat “treatment” ini, seorang petugas haji di Madinah tahun 1429 sempat ditahan aparat keamanan.

Saat itu, dia menemukan uang di dalam Masjid Nabawi. Maksud hati ia akan menyerahkan uang itu kepada bagian penemuan barang di dalam masjid. Karena menjelang salat, ia memasukkan uang itu ke dalam kantong sakunya, dengan maksud akan menyerahkan barang temuannya ke bagian kehilangan barang. Namun malang, sebelum salat berlangsung, dia sudah ditangkap aparat keamanan setempat karena penemuan barang itu terpantau oleh CCTV yang selalu mengawasi seluruh gerak-gerik jemaah. Setelah melakukan klarifikasi, petugas itu baru dilepaskan. (Wachu)

Mendekati puncak ibadah haji, jumlah jemaah calon haji (calhaj) Indonesia yang tersesat mendekati seratus orang per hari. Mayoritas jemaah tersesat itu berusia lanjut.

“Kemarin lusa yang tersesat jalan 111 orang, kemarin 97 orang, hari ini ada 83 orang. Jemaah tersesat jalan biasanya kami jumpai setiap kali selesai waktu salat,” ujar Kepala Sektor Khusus Jemaah Sesat jalan M Ali Saifudin, Senin (16/11).

Dibandingkan dengan kondisi pada awal November, saat jemaah Indonesia baru masuk Mekah, jumlah itu meningkat drastis. Pada awal-awal November, jumlah rata-rata jemaah tersesat berkisar tiga puluhan orang per hari.

Ali mengungkapkan, semakin banyaknya jemaah Indonesia yang berada di Mekah, ditambah suasana Masjidil Haram yang semakin padat dengan jemaah dari penjuru dunia membuat jemaah mudah terpisah dari rombongan. Akibatnya, jemaah mudah tersesat. Terlebih, umumnya jemaah tersebut tidak mengenal medan dengan baik.

“Jumlah pintu Masjidil Haram ada 94 buah, ketika jemaah masuk dari pintu yang satu, terus keluarnya dari pintu yang lain, mereka jadi bingung dan tersesat,” kata Ali.

Ali menambahkan, mayoritas jemaah yang tersesat berusia 60 tahun ke atas. Ada yang dijumpai tersesat sendirian, ada pula yang berombongan. “Pernah ada dua puluhan jemaah tersesat bersama karena ketua rombongannya tidak memahami jalan,” kata Ali.

Sebagian dari jemaah tersesat, menurut Ali, hanya mampu berkomunikasi dengan bahasa daerah. Hal itu menimbulkan kesulitan tersendiri saat petugas jemaah sesat hendak menanyakan nomor rumah pemondokannya. Namun setelah mencocokkan identitas di gelang identitas dengan “data base” jemaah, persoalan itu terselesaikan.

Untuk mengurangi risiko jemaah tersesat, Ali menganjurkan agar jemaah mengenali medan . Mereka harus ditunjukkan lokasi dan pintu-pintu yang bisa dijadikan patokan. Saat hendak masuk masjid, jemaah disarankan tidak meletakkan alas kaki di tempat penitipan sandal yang berada di luar masjid. Sebaiknya, jemaah menaruh sendal atau sepatunya di tas kresek dan membawa serta ke dalam masjid. Dengan begitu, saat hendak keluar masjid jemaah lebih leluasa untuk keluar lewat pintu mana saja. (Eni/Siwi, Depag)

Berikut ini kami sampaikan pada pembaca sekalian beberapa berita haji, terkait maraknya kasus penipuan dan pencurian yang terjadi saat musim haji di Tanah Suci. Semoga tulisan ini membuat kita waspada saat berhaji, karena walaupun tempat haji berada di Tanah Suci, namun kejahatan tetap dapat terjadi. Untuk itu Waspadalah.

Waspadai Pencurian di Pemondokan

Jemaah Calon Haji Indonesia diminta untuk mewaspadai kasus pencurian modus baru yang dilakukan di pemondokan. Selain kasus pencopeten dan penjembretan yang selama ini menimpa jemaah calon haji Indoneia ketika berada di Madinah yang biasanya di lakukan di sekitar Mesjid Nabawi.

Menurut Kepala Seksi Pengamanan Daerah Keja Madinah Azharudin Jamin kasus pencurian di pemondokan yang dialami jemaah Indonesia mencapai 15 kasus, kasus pencurian ini terjadi di pemondokan yang di laur markaziah. “Modus yang digunakan pelaku pada shloat subuh dan waktu magrib hingga sholat isya,” jelas Azhardin Jamin.

Pelaku kriminal ini, tambah Azharudin diindikasikan bukan dilakukan jemaah maupun orang luar karena keika kamar ditinggalkan dlam keadaan terkunci dan kunci dititipkan kepada resepsionis. Ketika pulangpun dalam keadaan terkunci, namun tempat penyimpanan barang sudah terbuka.

Menyangkut model pengamanan, menurut Azharudin diserahkan kepada Majemuah sesuai denga kesepakatan dalam kontrrak. Majmuah seharusnya juga bertanggungjawab untuk menggantinya setiap adanya kehilangan yang alami jemaah Indonesia . “Hanya saja dari belasan kasus yang terjadi di pemondokan, baru 3 kasus yang mendapat penggantian dari Majmuah,” jelas Azharudin.

Untuk pengamanan ke depannya, jemaah diimbau untuk berhati-hati dan pengamanan harus melekat pada jemaah itu sendiri. Oleh karena itu peran ketua kloter, ketua rombongan dan ketua regu untuk mengingatkan kepada rombongannya agar barang-barang berharga ditiipkan kepada petugas.

Azharudin menambahkan jemaah Indonesia belum banyak yang tahu mengenai adannya brankas yang ada di setiap kamar, karenanya brankas ini belum banyak dimanafaatkan oleh jemaah untuk menyimpan barang-barang berharag miliknya. (MA Effendi, Depag.go.id)

Kerugian Pencurian yang Menimpa Jemaah Haji Capai 208 Juta Rupiah

Kerugian kasus pencurian atau penjembretan terhadap jemaah Indonesia di Madinah mencapai SR 80.000 atau sekitar Rp. 208.000.000,- Kasus pencurian atau penjembretan yang dialami jemaah Indonesia selama di Madinah tercatat 50 kasus atau 0,05% . Sedangkan total jemaah Indonesia yang telah berada di Madinah selama gelombang pertama yaitu sekitar 98.000 orang.

Menurut Kepala Seksi PAM Daerah Kerja Madinah Azharudin M Jamin kasus-kasus kriminal yang dialami oleh jemaah Indonesia langsung dilaporkan ke Surthoh Markaziah atau kantor kepolisian di Madinah dan Mabais (bagian inteljen). Kepolisian Madinah sendiri kemudian menangkap lebih dari 20 orang yang diduga melakukan kriminal terhadap jemaah Indonesia .

“Ke-20 orang tersebut rata-rata WNI, dan yang tertangkap tangan hanya satu orang, yang lainnya masih diduga,: jelas Azharudin. Menurutnya kepolisian sendiri sangat responsif menagani kasus criminal yang dialami oleh jemaah Indonesia dengan melakukan razia dan menangkap orang-orang 0yang dicurigai di sekitar Mesjid Nabawi sehingga menurunkan angka kriminalitas terhadap jemaah Indonesia .

“Kami akan terus melakukan koordinasi dengan kepolisian setempat untuk menangani kasus-kasus seperti ini,” ungkapnya.

Azharudin berharap kepada jemaah untuk lebih hati-hati dengan tidak membawa banyak uang maupun barang-barang berharga dan masing-masing diharapkan bisa menjaga keamanan. (MA Effendi)

Kejahatan Bukan Semata Niat Tapi Karena Ada Kesempatan

Jamaah calon haji (Calhaj) supaya berhati-hati saat bepergian dan tidak membawa uang serta barang berharga demi kemananan dan keselamatan. Berdasarkan rekapitulasi kehilangan uang dan barang di daerah kerja Mekkah sampai Minggu (8/11) tercatat Rp 81.542.500 kerugian yang dialami jamaah calon haji (Calhaj) karena kecopetan, ditipu, teledor atau lupa. Rinciannya SR21.657, Rp27.400.000, US Singapura 210, ponsel 9 unit, kamera 2 unit dan Alquran digital 1 unit.

“Karena itu, calhaj diimbau tidak membawa uang banyak dan benda berharga saat melakukan aktifitas diluar pemondokan. Jangan mudah percaya dengan hasutan orang yang baru dikenal meski dia mengaku dan bisa berbahasa Indonesia,” tegas Kepala Daerah Kerja (Daker) Mekkah H Subakin, Senin (9/11), kemarin.

Subakin menyatakan pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada calhaj supaya tidak menjadi korban kejahatan selama berada di Kota Mekkah. “Imbauan untuk berhati-hati kita tempel di setiap pemondokan dan didalam bus yang mengantar mereka selama di Kota Mekkah. Kemudian, kepada ketua kloter atau rombongan juga tak henti-hentinya melakuakan sosialisasi tersebut,” jelasnya.

Kepala Seksi Keamanan Daker Mekkah mengungkapkan sistem keamanan disekitar pemondokan sudah dilakukan pengetatan karena selain penghuni dilarang masuk tanpa izin petugas setempat. Jamaah juga diimbau selalu bersama-sama rombongan saat bepergian. “Karena itu jamaah sebelum meninggalkan kamar pintu sudah terkunci dan tidak membawa barang berharga dan uang dalam jumlah besar. Cukup membawa uang untuk membeli makan saja,” tuturnya.

Dia menambahkan, kerugian yang dialami jamaah juga biasanya disebabkan karena keteledoran. “Padahal dalam suasana yang serba padat dan crowded jamaah harus lebih meningkatkan kewaspadaannya,” pungkasnya.

Kepala Sektor Khusus Masjidil Haram Ali Saefuddin mengungkapkan, sedikitnya 20 – 35 jamaah yang melapor tersesat jalan menuju pemondokan. “Mereka umumnya ditemukan dalam kondisi bingung dan kelelahan karena sudah muter-muter mencari jalan menuju pondokan,” ujarnya di pos khusus, kemarin.

Menurut Ali, jamaah tersesat ini kerap menjadi sasaran para pelaku tindak kriminal. Sedikitnya sudah terjadi lebih dari tujuh tindak kriminal yang menyasar jamaah yang sudah uzur ini. Modusnya rata-rata hampir sama, yaitu berpura-pura menolong dan meminta identitas untuk kemudian merampas tas korban.

Karenanya, ia meminta para ketua rombongan untuk menjaga keutuhan rombongannya. Bila terpaksa harus meninggalkan salah satu jamaahnya karena suatu alasan, maka sebaiknya jamaah itu dititipkan di tempat yang aman. “Kalau di dalam Masjidil Haram, bila dia jamaah perempuan, sebaiknya dititipkan askar di shaf khusus perempuan tak jauh dari Multazam,” ujarnya. (boy iskandar)

Pencurian dengan Penipuan

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari petugas non kloter Bidang Pelayanan Jamaah Tersesat, Idi Amien di Kota Makkah, telah terjadi beberapa kali tindak kriminal dialamai oleh Jamaah Calon Haji (JCH) asal Indonesia.

Seperti yang terjadi kemarin, disekitar Masjidil Haram. Seorang warga asing yang mengaku petugas keamanan membawa kabur tas berisi uang sebesar 1.400 Riyal yang dititipkan kepadanya saat korban masuk kamar kecil. Pelaku berpura-pura menjadi petugas dan melarang korban membawa masuk tas dan barang bawaan lainnya ke kamar kecil, kemudian menyarankan agar dititipkan kepadanya. “Hingga akhirnya pelaku bisa dengan leluasa membawa tas tersebut kabur,” ungkap Kasub Bag Tata Usaha (TU) Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Syamsudin Noor Banjarmasin, Hidayaturrahman.

Untuk itu lanjut Hidayat, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Kalsel kembali mengimbau kepada para JCH agar dapat mewaspadai segala gerak gerik yang mencurigakan. “Kita ingatkan kepada JCH, kalau ke pasilitas umum, seperti rumah makan, kamar kecil dan tempat layanan lainnya supaya tidak sendirian. Kemudian jangan mudah percaya terhadap seseorang yang mengaku sebagai petugas atau yang menawarkan bantuan sebelum diketahui dengan jelas status dan keberadaannya. Sebab, dengan banyaknya manusia yang berasal dari berbagai negara, semakin beragam pula tujuan dan modus yang di jalankan,” ingatnya. (lf/dyt06-info haji, Depag)

Jemaah Agar Berhati-hati dan Tetap Waspada

Wakil Ketua I Panitia Penyelenggara Ibadah haji (PPIH) Indonesia di Arab Saudi Zainal Abidin Sufi meminta agar jemaah haji Indonesia berhati-hati dan tetap waspada selama berada di Madinah dan Mekkah. Karena dari laporan yang diterima selama 4 hari kedatangan jemaah haji Indonesia di Arab Saudi, dua jemaah asal kloter 9 Solo telah menjadi korban tindak kriminal.

Menurut Zainal yang sedang memantau kedatangan jemaah haji di Madinah, peristiwa kriminal yang menimpa jemaah haji Indonmesia tersebut bermodus munculnya orang-orang yang manwarkan jasa menitipkan barang, dan akhirnya melarikan barang milik jemaah dan bahkan merampas barang milik mereka.

Dua peristiwa kriminal tersebut, kata Zainal Abidin Sufi, terjadi di toilet masjid Nabawi, yang pelakunya diduga juga berasal dari Indonesia, karena mereka terampil menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. “Jemaah jangan mudah percaya terhadap orang-orang yang menawarkan jasa menitipkan barang,” tambahnya.

Zainal meminta, agar jemaah dalam melakukan kegiatan ibadah selalu bersama rombongan. “Jika mengalami kesulitan segera lapor kepada petugas-petugas di lapangan maupun yang di tempatkan di sektor-sektor layanan,” kata Sufi.

Petugas haji Indonesia, kata Sufi, berseragam baju biru muda, bercelana biru tua, dilengkapi dengan identitas petugas yang jelas, seperti nama, unit layanan, bendera merah putih, dan id card petugas haji Indonesia. (ts, DEPAG)

Kerjasama Regu Penting untuk Tangkal Kejahatan

Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 1430 H menghimbau agar setiap jemaah haji berhati-hati menghadapi kemungkinan gangguan keamanan. Kerjasama antar jamaah dalam setiap regu atau rombongan harus selalu dijaga.

Demikian diungkapkan Wakil Ketua Bidang Keamanan Daerah Kerja Mekah PPIH 1430 H Letkol Caj Abu Haris di Mekah, Rabu (28/10), menganggapi peristiwa perampasan tas berisi uang dan dokumen yang dialami salah satu jamaah haji Indonesia di Madinah.

Perihal peristiwa kriminal tersebut, Haris menjelaskan korban adalah Turgiyanto Maskur Bin Kasiban, jemaah asal Embarkasi Solo Jateng. Ia menjadi korban tindak kriminal di Masjid Nabawi Madinah. Modusnya, saat korban hendak mengambil mudhu di toilet masjid, korban didekati oleh seseorang yang memaksa membawakan barang-barang korban.

Alasannya, di toilet/tempat wudhu tidak diperbolehkan membawa barang-barang, karenanya harus dititipkan kepada pelaku. Setelah barang berpindah tangan pelaku langsung melarikan diri. Pelaku diduga berasal dari Indonesia karena saat beraksi ia menggunakan bahasa Jawa.

“Untuk mengantisipasi tindak kejahatan, pengamanan dari dalam regu lebih berperan. Sebab jumlah tenaga pengamanan kita sangat terbatas,” ujar Haris.

Menurut Haris, total jumlah petugas keamanan PPIH pada musim haji tahun ini sebanyak 31 orang. Mereka berasal dari unsur TNI dan Polri dan disebarkan ke seluruh sektor yang ada di Mekah. Jumlah itu jelas jauh dari memadai mengingat jemaah reguler Indonesia mencapai 191.000 orang.

“Kalau mau ideal, perbandingannya 1:200, satu petugas bertanggungjawab mengamankan 200 orang. Saat ini kawan-kawan petugas keamanan lebih berfungsi sebagai dinamisator agar fungsi keamanan dari dalam regu bisa berjalan optimal,” ujar Haris.

Sebagai upaya lebih lanjut, Haris mengaku pihaknya sudah berkoordinasi dengan bagian intelijen Arab Saudi. Selain itu, melalui selebaran pihaknya menghimbau agar jamaah tidak pergi-pergi sendirian, tidak mudah percaya pada orang yang baru dikenal, mempelajari sekaligus mewaspadai modus-modus kejahatan.

Menurut Haris, hampir tiap tahun tindak kriminal menimpa jamaah Indonesia. Bentuknya antara lain perampasan dan pencopetan. Selain modus penipuan seperti yang terjadi di Madinah tersebut, modus lain yang sering digunakan adalah pelaku berpura-pura mengemis, ketika jamaah mengeluarkan uang dari tas, pelaku kemudian merampasnya.

“Bahkan ada juga pelaku yang berpura-pura menjadi petugas, memakai baju mirip seragam petugas, mendekati korban dan mengambil uang atau barang berharganya dengan berbagai cara,” jelas Haris. (Nik, Depag)

Bicara masalah ongkos haji jemaah calon haji Indonesia yang katanya “mahal sekali”, ternyata ada lho yang lebih mahal. Ya, justru biaya haji untuk orang di Arab sendiri secara perhitungan matematika jauh lebih tinggi dari biaya haji di negeri kita (padahal tidak naik pesawat pp dan bea angkut dari daerah, baya selama di embarkasi, paspor dll).

Naah, alih-alih kita mengomentari tingginya (baca: naiknya) BPIH (Biaya Perjalan Haji Indonesia dari tahun ke tahun, mendingan kita simak tulisan dibawah ini, dan bersabarlah bila biaya haji tahun depan disesuaikan lagi. semoga bermanfaat bagi kita semua.

__________________________________________

Bukan hanya warga Indonesia yang harus menungg lama untuk berhaji, warga arab juga demikian. Mereka yang sudah berhaji harus menunggu paling tidak lima tahun untuk bisa berhaji lagi. Membayarnya pun mahal. Jauh lebih mahal dibanding warga Indonesia. Saking mahalnya, tahun ini banyak warga Arab yang mengurungkan niatnya menunaikan ibadah haji.

Belakangan ini, muslim Indonesia harus menunggu antrian sampai empat tahun untuk berhaji. Itu lantaran kuota yang disediakan oleh pemerintah Saudi terbatas. Tahun ini hanya mendapat jatah 210.000. Di daerah-daerah tertentu ada yang antriannya hanya dua sampai tiga tahun. “Jadi masih lebih baik kita dibanding warga Arab,” kata Amirul Haj Indonesia Bahrul Hayat di Jeddah kemarin malam.

Jemaah haji Indonesia harus membayar biaya penyelenggaraan sekitar Rp 34 juta. Biaya itu antara lain untuk tiket pesawat, angkutan lokal, makan, dan pemondokan. Sedangkan yang dibayarkan kepada pemerintah Arab Saudi melalui rusum (biaya pelayanan umum) hanya SR 1.029 (sekitar Rp 2,5 juta).

Seperti dilansir Arab News kemarin, warga Arab yang ingin berhaji harus membayar kepada pemerintah SR 10.000 (sekitar 25 juta). Karena besarnya biaya itu banyak warga Arab yang mengurungkan niatnya untuk berhaji.

Penurunan itu mencapai 40 persen. Dia mendesak pemerintah Arab Saudi menurunkan biaya haji itu hingga SR 1.500-3.900 untuk berbagai katagore.
Lesunya minat warga lokal berhaji memusingkan biro-biro perjalanan yang biaya menangani jemaah haji lokal. Saleh Al-Zufairi, pemilik biro perjalanan Al Zufairi mengak, tahun ini hanya mendapat 20 orang yang berhaji lewat perusahannya. Padahal, tahun lalu biro perjalanan yang berpusat di Dammam itu mendapat 200 orang. Memang bukan sekedar karena biaya tinggi. Faktor lainnya adalah flu babi yang sedang menghantui warga Arab.

Pemerintah Saudi memang sengaja membatasi warganya untuk berhaji demi memberi kesempatan kepada ummat Islam negara-negara lain. Pembatasan dilakukan karena sempitnya tempat prosesi haji, baik di Masjidil Haram maupun Armina (Arafah-Muzdalifah-Mina). Sekarang hanya bisa menampung 3 juta umat Muslim.

Ummat muslim Indonesia, k ata Bahrul Hayat, masih mendapat kesempatan lebih dibanding negara-negara lain. Meskipun banyak pihak menilai biaya penyelenggaran haji Indonesia terlalu mahal, ongkos itu masih lebih murah dibanding negara-negara lain. “Bibanding negara tetangga Malaysia, kita masih lebih murah,” kata Bahrul yang didampingi Dirjen Haji Slamet Riyanto.

Bahrul tak tahu berapa ongkos naik haji Malaysia. Tetapi, untuk membayar biaya pondokan saja sekitar SR 3.900-4.000. Sementara itu jemaah haji Indonesia hanya membayar SR 2.500. Itu pun masih banyak yang protes. Anggota Komisi 8 DPR yang sekarang memantau kegiatan haji di Saudi menilai Departemen Agama kurang serius dalam menyelenggarakan haji.

Sebagai amirul haj, Bahrul akan berdialog dengan jemaah haji dari pondokan ke pondokan sekaligus memantau fasilitas yang mereka peroleh. Apa yang didapatkan nanti akan dipergunakan untuk memperbaiki pelaksanaan tahun berikutnya.(baehaqi, Depag.go.id)

Berebur Air Zam-zam

Mengambi air zam-zam sebagai oleh-oleh “wajib” bagi jemaah haji sekarang tidaklah gampang. Pemerintah Arab Saudi telah menutup sumber air itu. Sebagai gantinya dipasang kran di mana-mana Kalau sekedar untuk minum tak ada kesulitan. Yang repot kala mau membawa pulang. Pengisian jurigen harus dilakukan di tempat yang sudah ditentukan.

Sekarang mengambil air zam-zam di Masjidil Haram untuk dibawa pulang itu harus antri panjang, lama dan sering berebut. Kran khusus hanya disediakan di Bab Ali, salah satu gerbang ke Masjidil Haram. Lokasinya berseberangan dengan Maulud Nabi. Ada dua tempat di satu lokasi itu. Satu untuk laki-laki dan lainnya khusus perempuan. Sayang, krannya tidak banyak. Masing-masing tempat sekitar sepuluh buah. Itulah yang menyebabkan jemaah sering berebut.

Kondisi itu dimanfaatkan oleh orang-orang yang ingin mengais rezeki. Mereka menjual zam-zam satu galon 10 liter SR 10 (Rp 25.000). Sedang satu gallon 20 liter SR 15 (Rp 37.500). Harga itu sudah termasuk galonnya yang kalau membeli SR 5 ukuran 10 liter dan SR 10 ukuran 20 liter. Banyak jemaah yang membeli zamzam ke penjaja itu.

Jemaah telah diimbau untuk berhati-hati. Dikhawatirkan ada orang yang menjual zam-zam palsu. Pemerintah Saudi sendiri telah berkali-kali melakukan razia. Sudah banyak air yang disita. Tetapi setiap hari masih saja ada penjual zam-zam yang mencuri kesempatan.

Sebenarnya, pemerintah Saudi juga menyediakan kran zam-zam yang lebih banyak. Cuma, lokasinya cukup jauh dari Masjidil Haram, yaitu di Kudai, bersebelahan dengan terminal. Airnya juga sama-sama dari Masjidil Haram yang dialirkan lewat pipa bawah tanah.

Wartawan MCH Baehaqi telah mengambil zam-zam di Kudai tersebut. Aliran airnya deras. Mengisi satu gallon 10 liter hanya butuh waktu dua menit. Karena itu, meski banyak warga Arab yang mengambil beberapa gallon sekaligus, tak ada antrian. Sayang, waktunya dibatasi. Hanya antara pukul 10.00-14.00 WAS. Melewati jam itu pagar ditutup.

Di sana disediakan kran-kran berderet sekitar 50 meter. Setiap hari banyak warga Makkah yang mengambil air zam-zam di tempat itu untuk kebutuhan minum keluarga. Tetapi nyaris tidak ada jemaah haji yang mengambil air di sana. Mereka tidak tahu. Lagi pula lokasinya memang jauh, baik dari pondokan maupun Masjidil Haram.(baehaqi, untuk Depag.go.id)

Berhaji dan Bersabar

Lagi-lagi, saya harus pergi ke Bakhutmah, sektor di arah tenggara Masjidil Haram. Awal saya tiba, beberapa pemondokan di sana belum siap, karena kunci masih dipegang pemilik pemondokan yang selalu berjanji akan menyerahkan keesokan harinya (begitu terus tiap hari ketika ditagih). Pekan lalu, ada seorang jamaah asal Karawang yang meninggal sesaat setelah turun dari bus yang membawanya dari Jeddah. Beberapa hari kemudian, ada sebuah kebakaran kecil di salah satu kamar yang menghanguskan barang bawaan seorang jamaah.

Dua hari lalu, saya dan teman-teman tim Media Center Haji kembali berkunjung ke sana. Beritanya tak main-main, 181 jamaah menuntut pindah. Berita yang sampai ke telinga kami, lumayan seram: ada demo ke kantor sektor (belakangan baru ketahuan, berita itu terlalu banyak bumbunya, kenyataannya tak begitu!) menuntut kepindahan itu.

Tempatnya dinilai tak layak. Mereka meminta dipindahkan ke tempat yang lebih layak. Beruntung, masih ada kamar di tempat yang dianggap layak itu, dan proses pemindahan tak begitu memakan waktu. Semua lega.

Soal puas tidak puas dengan pemondokan, bukan kali ini terjadi. Di banyak sektor, hal itu kerap terjadi. Ada saja masalahnya. Ada yang mengeluhkan penyejuk udara kurang dingin, air tidak lancar, hingga alasan remeh: teman sekamar yang kurang kooperatif.

Kadang kondisinya memang benar demikian, kadang karena alasan yang berbeda pula. Seorang bapak mengeluhkan kamarnya tidak nyaman dan petugas tidak akomodatif, namun belakangan, dia mengaku tidak nyaman tidur sendiri terpisah dari sang istri yang kamarnya cukup jauh dari kamar tempatnya menginap.

Komplain pemondokan paling sering terjadi di hari pertama kedatangan gelombang pertama calon jamaah haji. Seorang teman mencari permakluman dengan kalimat, “mereka mengalami gegar tempat tinggal.” Sebelumnya, gelombang pertama selama delapan hari bermalam di Madinah. Mereka menginap di pemondokan sekelas hotel berbintang, kecuali yang pemondokannya di lokasi non-Markaziah. Di Makkah, mereka harus menghuni satu kamar berenam hingga berdelapan orang, dipan tak seempuk kasur hotel, dan saling berbagi kamar mandi. Kadang, satu kamar mandi dipakai ber-10 orang.

Di Makkah, saya serasa turun kelas,” ujar seorang jamaah. Ketika di Madinah, akunya, dia memuji pemerintah habis-habisan. “Namun di sini, sungguh mengecewakan.”

Ia menyoal kamar yang ukurannya 4 X 7 dan diisi enam tempat tidur. Penyejuk udara yang dipasang hanya AC window saja yang dirasa dinginnya kurang. “Bilang sama…(dia menyebut nama seorang pejabat di Departemen Agama), dia kemenakan saya, begini kerja anak buahnya.”

Pemondokannya berada di wilayah Bakhutmah, lima kilometer dari masjidil Haram. Berada di Ring II, namun lokasi ini dianggap paling strategis dari Masjidil Haram, karena tak ada jalan berbelok menuju Baitullah, vertikal dengan Ka`bah jika dlihat di peta.

Harga pemondokan di sini juga di atas harga rata-rata pemondokan di Ring II lainnya. Bahkan, jika plafon yang ditetapkan perjamaah 2.500 riyal, sewa rumah di sini 2.800 riyal, alias pemerintah harus nombok 300 riyal perjamaah.

Di balik pintu, Nenek Isah beristighfar berulang kali. Menurutnya, ujian sabar berwujud dalam banyak bentuk. Bagi orang kaya, harta adalah ujiannya. Bagi orang miskin, kekurangan harta ujiannya. Bagi jamaah haji, lamanya berpisah dengan keluarga dan segala tetek-bengek persoalan di Tanah Suci adalah ujiannya. “Ikhlas saja, namanya sedang bertamu. Mosok tamu menuntut macam-macam,” ujar jamaah dari embarkasi Banda Aceh ini.

Menurut warga Langsa ini, berhaji adalah medan untuk belajar bersabar. Bila di Tanah Air sudah bersabar menunggu sampai diberangkatkan selama hampir dua tahun, maka di sini harus lebih sabar lagi. “Dua tahun bersabar saja bisa, kok di sini yang hanya 40 hari tidak bisa,” ujarnya.

Termasuk dalam sabar itu, kata dia, adalah menenggang sikap-sikap yang tak mengenakkan dari rekan-rekan sekamar. “Jadikan semua ladang amal,” ujarnya.

Nenek Isah sendiri bukan tidak mengalami kendala selama di Tanah Suci. Ia kerap “kalah saing” saat berebut naik bus menuju Masjidil Haram. Tapi ia menyiasatinya dengan caranya sendiri, yaitu bergabung dengan jamaah lain menyewa mobil omprengan, dan mengatur jadwal shalat di Masjidil Haram. “Tak harus selalu shalat di sana, bukan?” ujarnya, yang biasanya memilih waktu Maghrib hingga Isya untuk shalat di lantai dua Masjidil Haram, lurus dengan Multazam.

Selama di Tanah Suci, saya seperti dibukakan mata lebar-lebar tentang makna bersabar. Ingatan saya berputar ke belakang. Menghadapi polah anak-anak yang kadang menyesakkan, saya kerap “menyerah”. Menghadapi setumpuk tekanan pekerjaan, saya kerap berpikir untuk “lari”. Saya kerap — sadar atau tidak sadar — mensugesti diri dengan kalimat, “Habis sudah kesabaran saya…” Padahal, bila sudah sampai habis, artinya saya belum bisa bersabar, bukan? Saya malu pada Nenek Isah! (siwi)

IBADAH HAJI

Perwujudan Tauhid kepada Allah dan Ukhuwwah Sesama Hamba
Al-‘Allamah Samahatusy Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah

Segala puji khusus bagi Allah yang telah menjadikan Ka’bah sebagai tempat berkumpul bagi umat manusia dan tempat yang aman, serta menjadikannya penuh barakah dan sebagai hidayah bagi alam semesta. Allah memerintahkan hamba dan rasul-Nya sekaligus khalil-Nya Ibrahim imamnya para hunafa’ (ahlut tauhid), ayah para nabi setelahnya, untuk mengarahkan dan mengumumkan kepada manusia dengan ibadah haji, setelah beliau menyiapkan Ka’bah tersebut agar manusia mendatanginya dari segenap penjuru dan lembah, sehingga mereka bisa menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka, dan mengingat Allah pada hari-hari yang telah ditentukan. [1]

Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah satu-satu-Nya tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia adalah ilahnya orang-orang terdahulu maupun kemudian. Dzat yang telah mengutus para rasul-Nya, menurunkan kitab-kitab-Nya dalam rangka menegakkan hujjah dan menjelaskan bahwa Allah Dialah Dzat Yang Maha Tunggal dan Esa, Yang berhak untuk diibadahi, yang berhak untuk para hamba bersatu dalam ketaatan kepada-Nya, mengikuti syari’at-Nya, dan meninggalkan segala yang bertentangan dengan syari’at-Nya.

Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, sekaligus sebagai khalil-Nya yang Allah utus sebagai rahmat bagi alam semesta dan hujjah atas segenap hamba-Nya. Allah mengutusnya dengan membawa hidayah dan agama yang benar, agar Allah menangkan atas segenap agama. Allah perintahkan untuk menyampaikan kepada umat manusia cara-cara manasik, maka beliau pun melaksanakan perintah tersebut baik dalam bentuk ucapan maupun amalan/praktek langsung. Semoga shalat dan salam tercurahkan kepada beliau dari Rabbnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaksankana haji, yaitu pada haji wada’, yang di situ beliau menyampaikan cara-cara manasik kepada umat manusia, secara ucapan maupun amalan/praktek langsung. Beliau bersabda kepada umat manusia :

« خذوا عني مناسككم فلعلي لا ألقاكم بعد عامي هذا »

Ambillah dariku cara manasik haji kalian. bisa jadi aku tidak bertemu kalian lagi setelah tahun ini. HR. An-Nasa`i 3062

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kepada umat manusia segala yang diamalkan dan diucapkan dalam ibadah haji, serta seluruh manasik haji, dengan sabda dan perbuatan-perbuatan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sungguh beliau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, dan berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad sampai ajal menjemput beliau.

Kemudian para khalifah ar-rasyidin dan para shahabat beliau radhiyallahu ‘anhum berjalan di atas manhaj (metode dan jalan) beliau yang lurus, dan menjelaskan kepada umat manusia risalah yang agung ini dengan ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan, serta mereka menukilkan segala sabda dan perbuatan-perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat manusia dengan penuh amanah dan kejujuran. Radhiyallahu ‘anhum.

Di antara tujuan terbesar dari ibadah haji adalah menyatukan barisan kaum muslimin di atas al-haq dan membimbingnya mereka kepada al-haq, agar mereka istiqamah di atas agama Allah, beribadah hanya kepada Allah satu-satu-Nya, dan tunduk patuh terhadap syari’at-Nya.

Wahai saudara-saudaraku di jalan Allah

Sesungguhnya Allah Jalla wa ‘Ala telah mensyari’atkan ibadah haji kepada hamba-hamba-Nya, dan menjadikannya sebagai rukun Islam yang kelima, karena adanya hikmah yang banyak dan rahasia yang agung, di samping manfaat yang tak terhitung.

Allah Jalla wa ‘Ala telah menunjukkan hal itu dalam kitab-Nya yang agung ketika Allah Jalla wa ‘Ala berfirman :

قُلْ صَدَقَ اللَّهُ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ * إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ * فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ *

Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, adalah Baitullah yang di Bakkah (Makah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup melakukan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Ali ‘Imran : 95-97)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa Baitullah (Ka’bah) adalah rumah pertama yang dibangun untuk umat manusia, yakni di muka bumi, untuk ibadah dan bertaqarrub kepada Allah dengan amalan-amalan yang diridhai-Nya. Sebagaimana telah sah dalam Ash-Shahihain dalam hadits yang diriwayatkan dari shahabat Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu dia berkata :

“Aku bertanya, wahai Rasulullah, beritakan kepadaku tentang masjid pertama yang dibangun di muka bumi.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Al-Masjidil Haram.” Aku bertanya lagi, “Kemudian masjid mana lagi?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Al-Masjidil Aqsha.” Aku lalu bertanya lagi, “Berapa lama jarak antara keduanya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “40 tahun,” Aku bertanya, “Kemudian mana lagi?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Kemudian di mana pun waktu shalat tiba, maka shalatlah di situ, karena itu adalah masjid.” (HR. Al-Bukhari 3186, Muslim 520)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa rumah pertama yang dibangun untuk umat manusia adalah Al-Masjidil Haram, yaitu rumah yang dibangun untuk ibadah dan bertaqarrub kepada Allah, sebagaimana dijelaskan oleh para ‘ulama. Sebelumnya sudah ada rumah-rumah untuk dihuni/tempat tinggal, namun yang dimaksud di sini adalah rumah pertama yang dibangun untuk ibadah, ketaatan, dan taqarrub kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan ucapan dan amalan yang diridhai-Nya.

Kemudian setelah itu adalah Al-Masjidil Aqsha yang dibangun oleh cucu Nabi Ibrahim, yaitu Nabi Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim ‘alaihimush shalatu was salam. Kemudian diperbarui lagi pada akhir zaman setelah itu dengan jarak/jeda waktu yang sangat lama oleh Nabi Sulaiman ‘alaihish shalatu was salam.

Lalu setelah itu seluruh permukaan bumi adalah masjid. Kemudian datanglah Masjid Nabawi, yang itu merupakan masjid ketiga pada akhir zaman yang dibangun oleh Nabi akhir zaman, yaitu Nabi Muhammad ‘alaihish shalatu was salam. Beliau membangunnya setelah berhijrah ke Madinah, beliau membangunnya bersama-sama para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Beliau memberitakan bahwa Masjid Nabawi tersebut merupakan masjid paling utama (afdhal) setelah Al-Masjidil Haram.

Jadi masjid yang paling utama ada tiga. Yang terbesar dan paling utama adalah Al-Masjidil Haram, kemudian Masjid Nabawi, dan Al-Masjidil Aqsha.

Shalat di ketiga masjid tersebut dilipatgandakan pahalanya. Terdapat dalam hadits yang shahih :

« أنها في المسجد الحرام بمائة ألف صلاة »

Shalat di Al-Masjidil Haram sama dengan 100.000 (seratus ribu) kali shalat. (HR. Ibnu Majah 1413)

Tentang Masjid Nabawi :

« الصلاة في مسجده خير من ألف صلاة فيما سواه , إلا المسجد الحرام »

Shalat di masjidku lebih baik daripada 1000 (seribu) kali shalat di selainnya, kecuali di al-masjidil haram.. HR. Al-Bukhari 1133, Muslim 1394

Dan tentang Al-Masjidil Aqsha :

« أنها بخمسمائة صلاة »

Sebanding dengan 500 kali shalat.

Jadi tiga masjid tersebut merupakan masjid yang agung dan utama, itu merupakan masjidnya para nabi ‘alahimush shalatu was salam.

Allah Jalla wa ‘Ala mensyari’atkan ibadah haji kepada hamba-hamba-Nya karena padanya terdapat kemashlahatan yang sangat besar. Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan bahwa haji itu wajib atas para hamba yang mukallaf dan mampu menempuh perjalanan kepadanya. Sebagaimana telah ditunjukkan oleh Al-Qur`an dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla :

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

Atas manusia terdapat kewajiban haji untuk Allah semata, barangsiapa yang mampu menempuh perjalanan ke Baitullah. (Al-‘Imran : 97)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan umat manusia :

« أيها الناس إن الله كتب عليكم الحج فحجوا . فقيل : يا رسول الله أفي كل عام ؟ فقال : الحج مرة فمن زاد فهو تطوع
»

Wahai umat manusia, sesungguhnya Allah telah menuliskan kewajiban haji atas kalian. maka berhajilah kalian! Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah apakah setiap tahun (kewajiban tersebut)?” Nabi menjawab, “(Kewajiban) haji sekali saja. Barangsiapa yang menambah (berhaji lagi) maka itu sunnah.” (HR. Muslim 1337)

Jadi kewajiban haji hanya sekali seumur hidup. Adapun selebihnya maka itu sunnah. Kewajiban ini berlaku kepada kaum pria maupun kaum wanita, yang mukallaf dan mampu melakukan perjalanan ke Baitullah.

Adapun setelah itu, maka itu merupakan ibadah sunnah dan taqarrub yang agung. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

« العمرة إلى العمرة كفارة لما بينهما والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة »

‘Umrah ke ‘umrah berikut merupakan penebus dosa (yang terjadi) antara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali al-jannah. (HR. Al-Bukhari 1683, Muslim 1349)

Keutamaan ini berlaku pada ‘umrah dan haji yang wajib maupun yang sunnah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

« من أتى هذا البيت فلم يرفث ولم يفسق رجع كيوم ولدته أمه »

Barangsiapa yang mendatangi Baitullah ini, tidak berbuat rafats dan fasiq, ia akan kembali (ke negerinya) seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya. (HR. Muslim 1350)

Dalam riwayat lain dengan lafazh :

« من حج هذا البيت فلم يرفث ولم يفسق رجع كيوم ولدته أمه »

Barangsiapa yang berhaji ke Baitullah ini, tidak tidak berbuat rafats dan fasiq, ia akan kembali (ke negerinya) seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya. (HR. Al-Bukhari 1324)

Hadits ini menujukkan atas keutamaan yang besar bagi ibadah haji dan ‘umrah, bahwa ‘umrah ke ‘umrah berikutnya merupakan penebus dosa (yang terjadi) antara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali al-jannah.

Maka sangat ditekankan bagi orang-orang yang beriman, untuk bersegera melaksanakan haji ke Baitullah, dan segera menunaian kewajiban besar ini di manapun mereka berada apabila telah mampu menempuh perjalanan menuju Baitullah. Adapun pelaksanaan haji setelahnya, maka itu adalah ibadah sunnah, bukan ibadah wajib. Namun tetap padanya terdapat keutamaan yang sangat besar, sebagaimana dalam hadits shahih :

« قيل : يا رسول الله أي العمل أفضل ؟ قال : إيمان بالله ورسوله ، قيل : ثم أي ؟ قال : الجهاد في سبيل الله ، قيل : ثم أي ؟ قال : حج مبرور
»

Ada shahabat yang bertanya, “Wahai Rasulullah amalan apakah yang paling utama?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Kemudian bertanya lagi, “Kemudian amalan apa lagi?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Berjihad di jalan Allah.” Kemudian bertanya lagi, “Lalu apa lagi?” Beliau menjawab, “Haji mabrur.” (HR. Al-Bukhari 26, Muslim 83)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaksanakan haji wada’, beliau mensyari’atkan untuk umat manusia cara-cara manasik haji dengan sabda dan perbuatan beliau. Dalam haji wada’ tersebut, beliau berkhuthbah pada hari ‘Arafah dengan khuthbah yang agung, di dalamnya beliau mengingatkan umat manusia terhadap hak-hak Allah dan tauhid kepada-Nya, beliau memberitakan kepada umat bahwa perkara-perkara jahiliyyah telah dimusnahkan, riba telah dibasmi, demikian juga darah-darah jahiliyyah sudah dihilangkan. Dalam kesempatan tersebut beliau juga mewasiatkan kepada umat dengan Al-Qur`an dan As-Sunnah serta untuk berpegang teguh dengan keduanya, mereka tidak akan tersesat selama mereka mau berpegang teguh terhadap keduanya. Beliau juga menjelaskan hak-hak suami terhadap istri dan hak-hak istri terhadap suami, serta beliau menjelaskan berbagai masalah yang sangat banyak, ‘alahi afdhalush shalatu was salam. Kemudian beliau bersabda :

« وأنتم تسألون عني فما أنت قائلون ؟ قالوا : نشهد أنك قد بلغت وأديت ونصحت ، فجعل يرفع أصبعه إلى السماء ثم ينكبها إلى الأرض ويقول : اللهم اشهد اللهم اشهد
»

Kalian bertanya tentang aku, apa yang kalian katakan? Para shahabat bekata : “Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan, melaksanakan, dan berbuat terbaik.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat jarinya ke arah langit kemudian mengarahkannya ke bumi seraya beliau berkata, “Ya Allah saksikanlah, Ya Allah saksikanlah.” (HR. Muslim 1218)

Tidak diragukan bahwa beliau telah menyampaikan risalah dan menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya dan sesempurna-sempurnanya. Kita mempersaksikan demikian terhadap beliau, sebagaimana para shahabat beliau telah mempersaksikannya. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan cara-cara manasik haji dengan sabda-sabda dan perbuatan-perbuatan beliau. Beliau keluar (berangkat) dari Madinah pada akhir bulan Dzulqa’dah tahun ke-10, beliau berihram haji qiran (yaitu memadukan antara haji dan ‘umrah secara bersamaan) dari Dzulhulaifah, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyiapkan hewan sembelihannya. Beliau tiba di Makkah pada waktu Shubuh hari ke-4 bulan Dzulhijjah. Beliau terus mengucapkan talbiyah semenjak dari miqat Dzulhilaifah setelah beliau berihram, dengan mengucapkan kalimat talbiyah yang terkenal :

« لبيك اللهم لبيك لبيك لا شريك لك لبيك إن الحمد والنعمة لك والملك لا شريك لك »

Aku penuhi panggilan-Mu Ya Allah, Aku penuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian dan kenikmatan adalah milik-Mu demikian juga kerajaan. Tidak ada sekutu bagi-Mu.

Yaitu setelah beliau bertalbiyah dengan haji dan ‘umrah sekaligus. Dan di Dzulhulaifah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pilihan kepada para shahabatnya dengan tiga jenis manasik haji, (yakni haji qiran, ifrad, atau tamattu’). Di antara mereka ada yang bertalbiyah untuk ‘umrah saja (yakni haji tamattu’), di antara mereka ada yang bertalbiyah untuk ‘umrah dan haji sekaligus (qiran).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeraskan bacaan talbiyahnya, demikian juga para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Beliau terus mengumandangkan talbiyyah hingga tiba di Baitullah Al-‘Atiq (yakni Ka’bah). Beliau menjelaskan kepada umat dzikir-dzikir dan do’a-do’a yang diucapkan dalam thawaf dan sa’i mereka, demikian juga ketika di ‘Arafah, Muzdalifah, dan ketika di Mina. Allah Jalla wa ‘Ala telah menjelaskan hal itu dalam Kitab-Nya yang agung ketika Allah Jalla wa ‘Ala berfirman :

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ * ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ * فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آَبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ * وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ * أُولَئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ * وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ لِمَنِ اتَّقَى وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ *

Tidak ada dosa bagi kalian untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Rabb kalian. Maka apabila kalian telah bertolak dari ‘Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram (yakni Muzdalifah). Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepada kaliam; dan sesungguhnya kalian sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat.

Kemudian bertolaklah kalian dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (’Arafah) [2] dan mohonlah ampun kepada Allah; aesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Apabila kalian telah menyelesaikan ibadah haji kalian, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kalian menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak/lebih kuat dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Rabb kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah bagi mereka bagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: “Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan jagalah kami dari siksa neraka”.

Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang tertentu (yaitu pada hari-hari Tasyriq : 11,12,13 Dzulhijjah). Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya, bagi orang yang bertaqwa. dan bertaqwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kalian akan dikumpulkan kepada-Nya. (Al-Baqarah : 198-203)

Dzikir termasuk manfaat-manfaat haji yang tersebut dalam firman Allah Ta’ala :

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan.

Penyebutan dzikir setelah penyebutan “berbagai manfaat” merupakan penyebutan sesuatu yang khusus setelah penyebutan sesuatu yang umum.

Diriwayatkan dari Nabi ‘alahish shalatu was salam :

« إنما جعل الطواف بالبيت والسعي بين الصفا والمروة ورمي الجمار لإقامة ذكر الله »

Hanyalah dijadikan thawaf di Ka’bah, sa’i antara Shafa dan Marwah, dan melempar jumrah adalah untuk menegakkan dzikrullah. (HR. At-Tirmidzi 902, Abu Dawud 1888, dan Ahmad VI/64)

Nabi mensyari’atkan untuk umat manusia dzikrullah ketika menyembelih sebagaimana tersebut dalam Kitabullah, beliau juga mensyari’atkan untuk umat manusia dzikrullah ketika melempar jumrah. Seluruh praktek manasik adalah bentuk dzikrullah, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. Ibadah haji dengan segala praktek dan bacaan-bacaannya semuanya adalah dzikir kepada Allah, semuanya adalah ajakan kepada tauhid, istiqamah di atas agama-Nya, dan kokoh di atas jalan yang dibawa oleh Rasul-Nya Muhammad ‘alahish shalatu was salam.

Maka tujuan terbesar dari ibadah haji adalah membimbing umat manusia agar bertauhid kepada Allah, dan ikhlash kepada-Nya, serta berittiba (mengikuti) Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam risalah yang beliau bawa berupa kebenaran dan hidayah dalam ibadah haji dan lainnya.

Talbiyah ucapan pertama yang dikumandang oleh seorang yang berhaji dan ber’umrah, yaitu ucapan : Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik la syarika laka labbaik (Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu).

(dengan kalimat tersebut) seorang yang berhaji/ber’umrah telah mengumumkan tauhidnya terhadap Allah, keikhlasannya karena Allah, dan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak ada sekutu bagi-Nya.

Demikian juga dalam thawaf yang ia lakukan, adalah untuk dzikir kepada Allah, mengagungkan-Nya, dan beribadah hanya kepada-Nya dengan berthawaf.

Kemudian sa’i, dia beribadah kepada-Nya dengan sa’i, hanya kepada-Nya tanpa selain-Nya. Demikian juga beribadah kepada Allah dengan mencukur rambut atau memendekkannya, demikian juga dengan menyembelih hewan qurban, demikian dengan bacaan-bacaan dzikir yang ia baca di ‘Arafah, di Muzdalifah, dan di Mina semuanya adalah dzikir kepada Allah, tauhid terhadap-Nya, ajakan kepada al-Haq, dan bimbingan bagi para hamba, bahwa wajib atas mereka untuk beribadah hanya Allah semata, bersatu dan saling menolong dalam mewujudkannya, dan wajib bagi mereka untuk saling berwasiat dengan hal tersebut, sedangkan mereka datang dari berbagai berbagai penjuru supaya mereka bisa menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka.

Manfaat-manfaat tersebut sangat banyak, Allah sebutkan pada satu ayat secara global dan Allah rinci pada tempat-tempat lainnya. Di antaranya Thawaf. Itu merupakan ibadah yang besar dan di antara sebab terbesar untuk terhapusnya dosa-dosanya dan dihilangkannya kesalahan-kesalahan. Demikian juga Sa’i, dan rangkaian ibadah yang ada pada keduanya (thawaf dan sa’i) berupa dzikir dan do’a kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Demikian juga dzikir dan do’a yang ada di ‘Arafah dan Muzdalifah. Demikian juga pada menyembelih kurban terdapat dzikir, takbir, dan pengagungan terhadap Allah. Demikian juga takbir dan pengagungan terhadap Allah yang diucapkan ketika melempar jumrah. Dan semua amalan haji mengingatkan kepada Allah satu-satu-Nya dan mengajak kaum muslimin semuanya agar mereka menjadi jasad yang satu, bangunan yang satu dalam mengikuti kebenaran, teguh di atasnya, berdakwah kepadanya, dan ikhlash karena Allah dalam seluruh ucapan dan perbuatan. Mereka saling bertemu di bumi penuh barakah ini menginginkan taqarrub dan beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, meminta ampunan-Nya dan memohon agar dibebaskan dari api neraka.

Tidak diragukan, bahwa hal ini di antara yang bisa menyatukan hati dan mengumpulkannya di atas ketaatan kepada Allah, ikhlash kepadanya, mengikuti syari’at-Nya, dan mengagungkan perintah dan larangan-Nya.

Oleh karena itu Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

Sesungguhnya rumah pertama yang dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang ada di Bakkah (Makah) yang dibarakahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitakan bahwa Ka’bah ini Mubarak (dibarakahi), yaitu dengan apa yang didapat oleh para peziarah dan para haji yang datang kepadanya berupa kebaikan yang sangat besar dari thawaf dan sa’i serta seluruh amalan haji dan ‘umrah yang Allah syari’atkan. Baitullah tersebut Mubarak, di sisinya dihapuskanlah kesalahan-kesalahan, dilipatgandakan kebaikan, dan diangkat derajat. Allah mengangkat derajat para peziarahnya yang ikhlash dan jujur, Allah ampuni dosa-dosa mereka serta Allah masukkan mereka ke Jannah sebagai bentuk keutamaan dari Allah dan kebaikan dari-Nya, apabila mereka ikhlash karena-Nya, istiqamah di atas perintah-Nya, meninggalkan perbuatan rafats dan fasiq.

Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

« من حج فلم يرفث ولم يفسق رجع كيوم ولدته أمه »

Barangsiapa berhaji, tidak berbuat rafats dan fasiq, maka ia kembali seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya.

­ar-rafats adalah melakukan jima’ (bersenggama) dengan istri dan segala hal yang bisa mengantarkan kepadanya baik ucapan maupun perbuatan, sebelum tahallul (selesai berihram/berhaji).

Adapun perbuatan fasiq adalah segala bentuk kemaksiatan baik ucapan maupun perbuatan, wajib atas seorang yang berhaji untuk meninggalkan dan menjauhinya. Demikian juga jidal (berdebat/cekcok) wajib ditinggalkan kecuali dalam kebaikan. Sebagaimana firman Allah Jalla wa ‘Ala :

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَج

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi [3], barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.(Al-Baqarah : 197)

Ibadah haji semuanya adalah ajakan untuk mentaati Allah dan Rasul-Nya, ajakan untuk mengagungkan dan mengingat Allah, ajakan untuk meninggalkan kemaksiatan dan kefasikan, ajakan untuk meninggalkan jidal (bantah-bantahan/cekcok) yang menyebabkan kekerasan hati dan permusuhan serta perpecahan antara kaum muslimin. Adapun jidal (berdebat) dengan cara yang lebih baik maka itu diperintahkan dalam semua kondisi dan tempat, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Berdakwahlah ke jalan Rabbmu dengan hikmah, nasehat yang baik, dan berjidal dengan cara yang lebih baik. (An-Nahl : 128)

Ini merupakan cara berdakwah di segala waktu dan tempat, baik di Ka’bah maupun selainnya. Berdakwah kepada saudara-saudaranya dengan hikmah, yaitu ilmu, (katakan) bahwa “Allah telah berfirman demikan, Rasulullah telah bersabda demikian.”

Juga berdakwah dengan mau’izhah hasanah (nasehat yang baik), bagus dan lembut tidak adanya pada sikap kaku dan kezhaliman. Demikian juga berdebat dengan cara lebih baik jika diperlukan untuk menghilangkan syubhat dan menjelaskan kebenaran. Lakukan debat dengan cara yang lebih baik, dengan kata-kata dan cara yang bagus dan bermanfaat yang bisa menjawab syubhat dan membimbing kepada kebenaran, tanpa sikap kasar dan keras.

Maka para jama’ah haji sangat butuh kepada dakwah dan arahan kepada kebaikan dan bantuan kepada kebenaran. Apabila mereka bertemu dengan segenap saudaranya dari berbagai penjuru dunia kemudian mereka saling mengingatkan tentang kewajiban Allah atas mereka maka itu merupakan sebab terbesar untuk menyatukan barisan mereka dan istiqamah di atas agama Allah, sekaligus sebab terbesar untuk mereka saling mengenal dan saling bekerja sama dalam kebaikan dan ketaqwaan.

Jadi ibadah haji padanya terdapat banyak manfaat yang besar, kebaikan yang sangat banyak; padanya terdapat dakwah menuju jalan Allah, taklim (pengajaran ilmu), bimbingan, saling mengenal dan saling bekerja sama dalam kebaikan dan ketaqwaan, baik dengan ucapan maupun perbuatan, dengan maknawi maupun materi. Demikianlah disyari’atkan kepada segenap jama’ah haji dan ‘umrah agar mereka saling bekerjasama dalam kebaikan dan ketaqwaan, saling menasehati dan bersemangat dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, bersungguh-sungguh dalam mengerjakan amalan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah, dan menjauhi segala yang Allah haramkan.

Kewajiban terbesar yang Allah tetapkan adalah mentauhidkan-Nya dan memurnikan ibadah hanya untuk-Nya, di semua tempat dan semua waktu, termasuk ditempat agung nan penuh barakah ini. Sesungguhnya termasuk kewajiban terbesar adalah memurnikan peribadahan untuk Allah semata di semua tempat dan di semua waktu, maka di tempat ini (di Makkah) kewajiban tersebut lebih besar dan lebih wajib lagi. Maka wajib memurnikan (ibadah) hanya untuk Allah semata dalam ucapan maupun perbuatan, baik berupa thawaf, sa’i, do’a, dan yang lainnya.

Demikian juga amalan-amalan lainnya, semuanya harus murni untuk Allah Jalla wa ‘Ala semata dan harus menjauhi segala kemaksiatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, menjauhi perbuatan menzhalimi dan mengganggu hamba baik dengan ucapan maupun penbuatan. Seorang mukmin itu sangat bersemangat untuk memberikan manfaat terhadap saudara-saudaranya, berbuat baik kepada mereka, dan mengarahkan mereka kepada kebaikan, serta menjelaskan hal-hal yang belum mereka ketahui dari perintah dan syari’at Allah, dengan waspada dari mengganggu mereka, menzhalimi mereka baik terkait darah/nyawa, harta, maupun kehormatan mereka.

Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzhaliminya, tidak menghinakannya, dan tidak menyia-nyiakannya, sebaliknya ia mencintai untuk saudaranya segala kebaikan dan membenci kejelekan untuk saudaranya, di mana pun berada, terlebih lagi di Baitullah, di tanah haram, dan di negeri Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya Allah telah menjadikan tanah haram ini sebagai tempat yang aman, Allah jadikan aman dari segala hal yang ditakuti oleh manusia. Maka seorang muslim harus benar-benar perhatian, agar dirinya menjadi orang yang terpercaya terhadap saudaranya, menasehati, dan mengarahkannya. Tidak malah menipunya, atau mengkhianati dan mengganggunya, baik dengan ucapan maupun perbuatan.

Allah telah menjadikan tanah haram ini sebagai tempat yang aman, sebagaimana firman-Nya :

وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا

Ingatlah ketika Kami menjadikan Ka’bah ini sebagai tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman.

Allah Jalla wa ‘Ala juga berfirman :

أَوَلَمْ نُمَكِّنْ لَهُمْ حَرَمًا آمِنًا يُجْبَى إِلَيْهِ ثَمَرَاتُ كُلِّ شَيْءٍ رِزْقًا مِنْ لَدُنَّا

Bukankah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam Tanah Haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh- tumbuhan) untuk menjadi rezki (bagimu) dari sisi Kami? (Al-Qashash : 57)

Maka seorang mukmin harus benar-benar bersemangat untuk mewujudkan keamanan tersebut. Hendaknya dirinya berupaya serius untuk memberikan kebaikan kepada saudaranya, membimbing mereka kepada sesuatu yang bermanfaat, membantu mereka dalam urusan dunia maupun urusan agama, kepada segala yang membuat hatinya lapang, dan membantunya untuk menunaikan manasik. Sebagaimana ia juga berupaya serius untuk menjauhi dari berbagai maksiat yang Allah haramkan. Di antara kemaksiatan tersebut adalah mengganggu manusia yang lain. Sesungguhnya itu di antara perbuatan haram yang terbesar. Apabila gangguan tersebut dilakukan terhadap para jama’ah dan ‘umrah Baitullah Al-Haram, maka menjadi kezhaliman yang lebih besar lagi dosanya, lebih keras hukumannya, dan lebih parah akibatnya.

Haji dan ‘Umrah merupakan dua ibadah besar, termasuk ibadah yang terbesar, yang terdapat di belakangnya pahala yang sangat besar, manfaat yang sangat banyak, hasil-hasil yang baik, untuk segenap kaum muslimin di segala penjuru dunia.

Shalat lima waktu, para hamba di masing-masing negeri berkumpul padanya, saling mengenal, saling menasehati, dan saling bekerja sama dalam kebaikan dan ketaqwaan. Namun pada ibadah haji, berkumpul padanya seluruh kaum muslimin di alam ini dari segala tempat. Apabila pada ibadah shalat lima waktu terdapat kebaikan yang besar padanya karena berkumpulnya kaum muslimin padanya sehari lima kali, maka demikian pula pada ibadah haji kaum muslimin berkumpul setiap tahun, padanya kebaikan yang besar, bahkan dalam ibadah haji kebaikan tersebut lebih besar lagi, yaitu dari sisi adanya ajakan terhadap umat kepada kebaikan karena mereka datang dari segenap penjuru. Bisa jadi engkau tidak bertemu lagi dengan saudaramu yang engkau jumpai sekarang. Demikian juga kaum wanita, hendaknya mereka juga bersemangat untuk mencurahkan upayanya dalam membimbing saudara-saudaranya di jalan Allah kepada amalan yang telah Allah ajarkan.

Maka seorang pria, hendaknya ia membimbing saudara-saudara maupun saudari-saudarinya di jalan Allah dari kalangan para jama’ah haji Baitullah Al-Haram dan para peziarah Masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian juga seorang wanita membimbing saudara-saudara maupan saudari-saudarinya di jalan Allah hal-hal yang ia ketahui terkait ibadah haji dan ‘umrah.

Demikianlah semestinya ibadah haji, dan demikianlah semestinya ibadah ‘umrah. Pada keduanya terdapat kerja sama, saling berwasiat dengan al-haq, saling menasehati, dan bimbingan kepada kebaikan, mencurahkan kebaikan dan tidak mengganggu di mana para jama’ah haji dan ‘umrah tersebut berada, baik di dalam Masjidil Haram maupun di luarnya, baik ketika thawaf, sa’i, melempar jumrah, maupun lainnya. Masing-masing bersemangat untuk memberikan manfaat kepada saudaranya dan mencegah timbulnya gangguan di segenap penjuru negeri yang mulia tersebut dan di semua masya’iril haj. Mengharap pahala dari Allah, takut dari akibat jelek kezhaliman dan gangguan terhadap saudara-saudaranya sesama muslim.

Ini semua masuk dalam firman Allah Ta’ala :

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِين

Sesungguhnya rumah (untuk ibadah) pertama yang dibangun bagi umat manusia adalah Ka’bah yang ada di Makkah, yang penuh barakah dan petunjuk bagi alam semesta. (Ali ‘Imran : 96)

Ka’bah tersebut dinyatakan sebagai rumah yang penuh barakah dan petunjuk bagi alam semesta, karena kebaikan besar yang diperoleh bagi orang-orang yang datang kepadanya di rumah mulia tersebut, berupa thawaf, sa’i, talbiyah, dan dzikir-dzikir yang agung, yang denganya mereka mendapat bimbingan ke arah tauhid kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya. Mereka juga bisa saling mengenal , saling bertemu, saling berwasiat, dan saling menasehati yang dengan itu mereka mendapat bimbingan kepada kebenaran.

Oleh karena itu Allah nyatakan Ka’bah ini sebagai rumah yang mubarak (penuh barakah) dan petunjuk bagi alam semesta, karena padanya diperoleh berbagai kebaikan besar berupa talbiyah, dzikir-dzikir, ketaatan yang agung, mengenalkan dan membimbing hamba kepada Rabb-nya, tauhid kepada-Nya, menginggatkan mereka dengan kewajiban-kewajiban mereka terhadap-Nya dan terhadap Rasul-Nya, serta mengingatkan mereka terhadap kewajiban-kewajiban mereka terhadap saudara-saudaranya para jama’ah haji dan ‘umrah, berupa saling menasehati, saling bekerja sama, saling berwasiat dengan al-haq, membantu para fuqara’, membela orang yang terzhalimi, mencegah orang zhalim (dari kezhalimannya), dan membantu (untuk bisa melakukan) berbagai kebaikan.

Demikianlah yang semestinya bagi para jama’ah haji dan ‘umrah Baitullah Al-Haram, hendaknya mereka menyiapkan diri masing-masing untuk kebaikan yang sangat besar ini. bersiap untuk memberikan kebaikan kepada saudara-saudaranya, bersemangat dalam mencurahkan kebaikan dan mencegah kejelekan/gangguan. Masing-masing bertanggung jawab atas beban yang Allah berikan kepadanya sebatas kemampuannya, sebaimana firman Allah

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Bertaqwalah kepada Allah sesuai kemampuan kalian. (At-Taghabun : 16)

Saya memohon kepada Allah dengan Asma`ul Husna-Nya dan Sifat-sifat-Nya yang tinggi, agar memberikan taufiq segenap kaum muslimin kepada segala yang padanya terdapat keridhaan-Nya dan kebiakan hamba-hamba-Nya. Semoga Allah memberikan taufiq seluruh jama’ah haji dan ‘umrah kepada segala yang padanya terdapat kebaikan dan keselamatan untuk mereka, yang padanya bisa menyebabkan diterimanya ibadah haji dan ‘umrah mereka, serta kepada segala yang padanya terdapat kebaikan untuk agama dan dunia mereka.

Sebagaimana pula, aku memohon kepada Allah agar mengembalikan para jama’ah haji ke negerinya masing-masing dalam keadaan selamat, mendapat taufiq, telah terbimbing, dan mengambil manfaat dari ibadah haji mereka yang itu menyebabkan mereka terselamatkan dari api neraka dan menyebabkan mereka masuk ke jannah serta menyebabkan mereka istiqamah di atas kebenaran di manapun mereka berada.

Aku juga memohon kepada Allah agar memberikan taufiq pemerintah kita di negeri ini kepada semua kebaikan, dan segala yang bisa membantu para jama’ah haji menunaikan manasik haji mereka dalam bentuk yang Allah ridhai. Sungguh pemerintah negeri ini (Kerajaan Saudi Arabia) telah berbuat banyak berupa berbagai proyek dan program yang bisa membantu para jama’ah haji menunaikan manasik haji mereka dan memberikan kelancaran kepada mereka dengan memperluas bangunan masjid ini. Semoga Allah membalas Pemerintah negeri dengan kebaikan dan melipatgandakan pahalanya.

Tidak diragukan, bahwa wajib atas para jama’ah untuk menghindari segala hal yang bisa menimbulkan gangguan dan kekacauan dengan segala bentuknya, seperti demonstrasi, orasi-orasi, provokasi-provokasi menyesatkan, maupun turun ke jalan-jalan yang menyempitkan para jama’ah haji dan mengganggu mereka, dan berbagai berbagai bentuk gangguan lainnya yang wajib dijauhi oleh para jama’ah haji.

Telah lewat kita jelaskan di atas, bahwa wajib bagi jama’ah haji agar masing-masing bersemangat untuk memberikan manfaat kepada saudaranya dan memudahkan mereka menunaikan manasik hajinya. Tidak mengganggu mereka baik di jalan ataupun lainnya.

Aku memohon pula kepada Allah agar memberikan taufik pemerintah dan membantu mereka mewujudkan segala hal yang bermanfaat bagi para jama’ah haji dan memudahkan penunaikan manasik haji mereka. Semoga Allah memberikan barakah pada jerih payah dan upaya keras mereka. Semoga Allah memberikan taufiq para penanggung jawab urusan haji kepada segala hal yang memudahkan urusan-urusan haji dan segala hal yang bisa membantu terlaksananya manasik haji sebaik-baiknya.

Sebagaimana aku memohon kepada Allah agar memberikan taufik seluruh pemerintah negeri muslimin di setiap tempat, kepada segala hal yang padanya terdapat keridhaan-Nya. Semoga Allah memperbaika hati mereka dan amal-amal mereka, semoga Allah memperbaiki orang-orang/teman-teman dekat mereka, membantu mereka dalam mewujudkan penerapan hukum dengan syari’at Allah terhadap hamba-hamba-Nya.

Semoga Allah melindung kita dan mereka dari memperturutkan hawa nafsu dan menjaga kita dari kesesatan-kesesatan fitnah.

Sesungguh Allah Jalla wa ‘Ala Maha Pemurah dan Maha Pemberi.

وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله نبينا محمد وعلى آله وأصحابه وأتباعه بإحسان

(dari muhadharah (ceramah) yang disampikan oleh Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz pada Sabtu sore 28 Dzulqa’dah 1409 / 2 Juli 1989. Termasuk dalam Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah V/130-141)

[1] Sebagaimana firman Allah :

وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لَا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ * وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ * لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kalian menyekutukan sesuatu apapun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadah, dan orang-orang yang ruku’ dan sujud. Dan berserulah (wahai Ibrahim) kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan (Al-Hajj : 26-28)

[2] Ada juga ‘ulama tafsir yang berpendapat maksudnya adalah dari Muzdalifah.

[3] Yaitu bulan Syawwal, Dzulqa`dah dan Dzulhijjah

(Sumber Klik langsung di sini)

PEMIMPIN Libya, Kolonel Muammar Khadafi dikenal sebagai pemimpin Arab yang tangguh dan nyentrik. Salah satu ke-mahiwalan-nya adalah, ia tidak suka menginap di hotel, meskipun berada di luar negeri. Ia memilih tinggal di tenda di luar ruangan. Dan salah satu yang tidak mau dipisahkan darinya adalah, ia selalu meminum susu onta segar. Itulah sebabnya, setiap pergi ke mana pun, ia disediakan onta yang dapat mengeluarkan susu. Kalau perlu, ia membawa onta sendiri dari tanah airnya.

Mengapa Khadafi begitu fanatik terhadap onta? Sejarah menunjukkan, onta merupakan binatang yang akrab dengan Rasulullah saw. Selama berjuang menyebarkan Islam, beliau selalu menunggang onta, binatang yang paling tahan terhadap panas matahari hingga 50 derajat Celsius tanpa makan dan minum. Bahkan, Nabi Muhammad mengendarai onta selama melakukan perjalanan hijrah dari Mekah ke Madinah Al-Munawarah. Bahkan Al-Quran secara khusus menyebutkan, “Apakah kalian tahu bagaimana onta dibuat?”

Selain sisi sejarah, peneliti Arab membuktikan bahwa susu onta mengandung zat yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, seperti hepatitis, diabetes, penyakit kulit, dan berbagaio macam penyakit perut. Bahkan, Dr. Abdulrahman Al-Qassas, dari Universitas Ummul Qura, Mekah menyatakan, yang dapat menyembuhkan seperti itu bukan hanya susunya, tapi juga air kencingnya.

Nancy Abdurahman, warga Mauritania, Afrika, kelahiran Inggris bahkan membuka peternakan onta. Sebab, susu onta diyakini mengandung banyak vitamin yang bisa membersihkan tubuh dari luar dan dalam. Susu onta kemudian diolah sebagai bahan kosmetika.

Minum susu onta

Saat menunaikan ibadah haji, jemaah bisa melakukan ziarah ke berbagai tempat bersejarah di lingungan kota suci Madinah maupun Mekah. Saat di Mekah, jemaah juga bisa mengunjungi Hudaibiyah, tempat yang jaraknya sekitar 30 km dari Kota Mekah. Hudaibiyah merupakan tempat Rasulullah saw. menandatangani perjanjian dengan orang kafir Quraish sebelum Kota Mekah ditaklukkan.Di Hudaibiyah ini selain terdapat pabrik pembuatan kiswah penutup Kabah, juga terdapat banyak peternakan onta.

Peternakan onta sengaja dikelola di pinggir jalan, sehingga setiap orang yang melewati jalan di Hudaibiyah ini bisa melihatnya. Para peternak biasanya melambaikan tangan sembari mengajak mampir ke peternakannya, sekadar untuk melihat-lihat, berfoto, atau bahkan meminum susunya. Peternak akan langsung memerah susu, saat pengunjung memintanya.

Onta yang dapat diperah susunya biasanya ditutup menggunakan kain. Sebab jika susu onta dibuka, anaknya akan menyusunya. Itulah sebabnya, onta yang bisa diperah susunya seperti memakai “celana”. Celana itu dibuka manakala akan diperah. Namun setelah magrib, “celana” itu dibuka untuk memberikan susu kepada anak onta. Sedangkan siang hari, susu itu diperah untuk para pengunjung yang mendatangi peternakan itu.

Saat diperah, susu onta mengalir deras. Hanya dalam semenit, keluar sekitar dua liter. Warnanya putih berbusa seperti sabun. Saat diperah, susu tersebut dituangkan dalam baskom. Dari baskom yang besar kemudian disaring sembari dimasukkan ke dalam botol kecil air mineral dengan ukuran separuh atau sekitar 250 miligram. Susu yang masuk ke dalam botol tidak lagi berbusa, karena tertinggal di dalam baskom.

Pengunjung bisa meminum langsung dari botol yang sudah diisi susu tersebut. Setiap satu botol kecil harganya RS 5 atau setara dengan Rp 13.500,00. Pengunjung juga dapat membeli satu baskom sekaligus. Pada musim haji seperti sekarang ini harganya RS 40 perbaskom. Namun saat musim sepi, harganya Cuma RS 25.

Penulis merupakan orang pertama yang mencoba meminum susu onta di antara para wartawan yang tergabung dalam Media Center Haji Daerah Kerja Mekah. Rasanya sedikit asin, tanpa ada rasa manis, tapi tidak berbau amis, mirip rasa santan. Bahkan dapat dikatakan, aromanya sedikit lebih wangi daripada susu sapi. Kalaupun agak bau, karena diminum langsung di peternakan, yang dekat dengan kandang onta.

Beberapa teman wartawan juga mencoba meminumnya. Satu dua orang mampu menghabiskan satu botol kecil. Namun yang lain hanya mampu menghabiskan separuhnya. Sebagian lain sama sekali tak ingin mencobanya, takut muntah. Apa pun rasanya, apa pun khasiatnya, yang pasti meminum susu onta langsung setelah diperah merupakan wisata yang eksklusif, tak ditemui di tanah air. Makanya, saat berhaji, jangan lewatkan wisata ini. (Wachu)

Older Posts »