Feeds:
Posts
Comments

Hj.Ngadirah Pulang Dengan Kaki Digips

Menjelang kedatangan jamaah haji kloter 46 asal Kota Semarang, Yeni asal Mrican Semarang nampak gelisah, bahkan sebelumnya dia berkali-kali telepon ke asrama untuk mengetahui jam kedatangan kloter tersebut. Dia mendapatkan izin masuk asrama untuk menjemput karena ibunya menderita sakit akibat kecelakaan di Makkah. Karuan saja, saat jamaah yang ditunggu-tunggu memasuki asrama dengan ambulan dia langsung mendekat. Pelukan dan tangisan haru Yeni dan beberapa kerabatnya menyambut Hj. Ngadirah ( 69 ) begitu keluar dari ambulan.

Kabar peristiwa kecelakaan yang menimpa ibunya sudah diterima beberapa hari sebelum kloter tiba di Solo. Jamaah haji asal warga Jl.Cerme II/1 Mrican Semarang yang masih dalam keadaan digips kaki kanannya menuturkan, kecelakaan yang menimpa dirinya terjadi 4 Desember pukul 13 WAS atau empat hari sebelum berangkat menuju Madinah untuk melaksanakan ibadah arbain. “Saya tertabrak mobil di depan maktab daerah Syisyah sepulang sholat di Masjidil Haram,” jelasnya ketika tiba di asrama haji Donohudan Boyolali Jumat (18/12) pukul 20.05 WIB.

Setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit Makkah, dia dinyatakan fraktur (retak) pada persendian kaki kanan dan harus digips paling tidak selama satu setengah bulan. Namun ketika rombongan akan menuju ke Madinah,Senin 7 Desember, dia bersikeras untuk ikut jamaah meski harus menggunakan penyangga (kruk) dan mengajukan permohonan perawatan di Indonesia saja. “Tidak seberapa sakitnya mas, tetapi karena sudah umur, ya repot juga mengunakan kruk ini,” katanya beralasan.

Sebenarnya Satgas PPIH Solo Bidang Kesehatan akan merujuk Hj.Ngadirah ke RS Muwardi Solo, namun pihak keluarga yang menjemput merasa keberatan dan memintanya akan dirawat di Semarang. “Lebih baik dirawat di Semarang saja, karena dekat dengan keluarga , meski fasilitas gratis selama 7 hari menjadi hilang,” ujar Yeni

Hingga kloter 47 asal Kudus yang mendarat di bandara Adisumarmo Solo Sabtu (19/12) pukul 12.47, jamaah asal Debarkasi Solo yang sudah kembali ke tanah air sebanyak 17.754 orang, dan jamaah wafat sebanyak 55 orang.(Achmad Suaidi)


Pasca peristiwa hujan lebat sekitar lima jam yang mengakibatkan banjir bandang di Makkah dan terutama Jeddah, Arab Saudi, Rabu (25/11), menjadi catatan sendiri bagi negeri petro dolar Timur Tengah ini.

Peristiwa alam yang megangetkan dunia mengingat Kota Suci ini sangat langka hujan, sebagaimana dikutip “Arab News” sempat merenggut 117 jiwa manusia, tidak termasuk 47 yang belum ditemukan. Hujan hari itu, merupakaan hujan keempat kalinya di Makkah. Tiga kali sebelumnya hanya berlangsung beberapa menit saja, sejam paling lama.

Selain banyak korban jiwa, terdapat 8.000 mobil rusak diterjang air bah atau terpuruk ke lembah serta hanyut terseret air yang mengalir deras di jalan-jalan raya bebas hambatan khususnya di “Haramaian Exspres Way”. Sementara bangunan yang terendam mencapai 10.000 lebih.

Kawasan terparah adalah bagian timur dan selatan kota Jeddah, yang berbatasan dengan kota Makkah. Di jantung kota Makkah sendiri, sebagai daerah hulu, hujan dan banjir tidak banyak menimbukan kerusakan, justru daerah kemana air mengalir atau hilir yang parah, termasuk jalan raya s sebelum menuju “check point” masuk Makkah.

Peristiwa cukup mengerikan, bahkan ada yang menyebut bak”Tsunami” ini tidak hanya disaksikan tetapi juga ikut terjebak empat bus yang ditumpangi anggota PPIH Arab Saudi Daker Jeddah yang berjumlah sekitar 200 orang yang hari itu ditugaskan mengkavr kegiatan jamaah haji Indonesia memasuki di Arafah untuk wukuf. Bus pun tak bisa bergerak selama dua atau tiga jam baik maju atau mundur.

Panitia dijadwalkan berangkat dari Hotel pukul 01.00 tetapi karena salah satu bus terkendala macet, baru bisa bersma-sama berangkat empat jam kemudian. Setelah empat busa bergerak dua jam, bus terjebak kemacetan luar biasa di kawasan Sulamaniyah, sekitar 11 Km dari markas Daker Jeddah di jalan Palesteen. Belakangan diketahui telah terjadi banjir luar biasa.

Kepastian terjadi hujan deras yang dideteksi sebagai hujan terlebat, mencapai 2/3 dari rata-rata curah hujan sepanjang tahun di Arab saudi, mengakibatkan banjir luar biasa di kawasan hilir itu bisa didapat ketika melihat air mengalir cukup deras di jalur sebelah kini (kendaraan di Arab Saudi melaju di jalur kanan-Red), karena menyeret atau menghanyutkan mobil, perabot rumah tangga dan lainnya.

Hujan hari itu memang cukup luas, selain di Makkah, Arafah pun ikut diguyur hujan sehingga tenda-tendak banyak yang rusak akibat tidak bisa menahan air, dan seluruh karpet (alas) untuk kegiatan Wukuf semua basah. Rombongan Menteri Agama Suryadharma Ali juga ikut terjebak dalam perjalanannya menuju Arafah sehinmgga diputuskan memunda keberangkatannya dan kembali ke hotel.

MAKKAH merupakan tanah haram negeri yang paling dicintai oleh Allah SWT dan juga Rasul-Nya, kiblatnya kaum Muslim. Di sana antara lain ada Masjidil Haram dan Ka`bah. Mendapat keutamaan bagi yang beribadah di masjid tersebut dengan kelipatan pahala 100.000 kali.

Kota Makkah sendiri kini berpenduduk 1,7 jiwa, berada di suatu lembah diantara perbukitan letaknya pada ketinggian 280 m diatas permukaan laut (DPL). Dalam musim haji tahun ini, Kota Makkah (termasuk jeddah-Madinah) kedatangan sekitar tiga juta tamu Allah.

Karena itu ketika ada kabar telah terjadi hujan lebat dan banjir bandang di terutama Makkah dan Jeddah keluarga di negeri asal jamaah sedikit was-was dan bertanya-tanya, sehingga untuk beberapa saat komunikasi di kedua kota ini mengalami gangguan.

Makkah sebagai tanah haram telah ditetapkan batas-batasnya, arah barat adalah jalan Jewddah-mekkah, di Asy Syumaisi (Hudaiaibiyah) yang berjarak 22 Km. Arah selatan, di Idha`ah Liben, jalan Yaman-Makkah untuk yang datang dari Mihamah, yang berjarak 12 Km dari Ka`bah.

Sebelah arah timur, di tepi lembah Uranah barat yang berjarak 15 Km dari Ka`bah. Arah timur laut, jalan Ji`ranah dekat dari Kampung Syara`i Al Mujahiddin, berjarak 16 Km dari Ka`bah. Arah utara, batasnya adalah Tan`im, berjarak 7 Km dari Ka`bah.

TEKSTUR tanah di Arab Saudi, khususnya kawasan Makkah dan Jeddah yang penuh bebatuan dan pasir, agaknya berbeda dengan kondisi di Tanah Air, karena itu air hujan yang turun tak mudah terserap dan masuk tanah.

Di Arab Saudi, khususnya lintas Jeddah-Makkah atau sebaliknya, seperti bisa disaksikan ketika Minggu (29/11) atau empat hari setelah peristwa itu, rombongan MCH kembali ke Jeddah, masih melahat genangan-genangan air di daerah rendah di sisi kini-kanan jalan utama bebas hambatan tersebut.

Ini sebuah bukti bahwa kepadatan tanah di negeri padang pasir ini luar biasa sehingga air sulit meresap. Bahkan ketika MCH kembali ke Makkah Sabtu (12/12), dimana peristiwa banjir itu sudah dua minggu lebih, genangan air bekas banjir tersebut masih bisa dilihat di daerah rendah.

Dalam kaitan peristiwa ini, Pemerintah Arab Saudi sangat tanggap. Mengantisipasi kemungkinan terjadi musibah susulan. Beberapa alat penyelamatan disiapkan di beberapa titik, puluhan perahu karet, alat berat disiapkan di kawasan bekas bandara lama.

Raja Abdullah setelah mendapat laporan adanya peristiwa itu, langsung memerintahkan untuk membentuk komisi investigasi untuk meneliti penyebab terjadinya musibah itu. Termasuk memanggil pejabat-pejabat terkait dalam pembangunan prasarana perkotaan, pekerjaan umum, pengairan dan sebagainya. Bahkan pejabat-pejabat yang sudah pensiun pun diminta penjelasannya.

Komisi investigasi yang terdiri dari para pejabat terkait dan akademisi serta pakar-pakar pembangunan perkotaan telah melakukan sidang pertamanya pekan lalu, diharapkan dalam pekan mendatang telah mendapatkan hasil temuannya untuk disampaikan kepada Raja Abdullah.

Karena struktur tanah yang sulit menyerap air, merangsang tumbuhnya biji-bjian sehingga pemandangan sepanjang kiri kanan jalan bebebas hambatan Makkah-Jeddah kini tampak benih-benih tersebut menghijaukan bukit maupun padang pasir. Ternak domba dan onta sudah banyak ditemui digembala.

Arab Saudi tampaknya memang tidak main-main dalam hal penghijauan, khususnya di tiga kota yang kami saksikan, Makkah, Madinah, Jeddan. Taman-tamah kota dipelihara dengan baik, rumput pun hijau, pohon-pohon di pinggir jalan rindang, bahkan boleh dibilang masih lebih baik dibanding jalan utama Thamrin atau Gatot Subroto, di Jakarta.

Menjadi lain tentu saja bila setiap bulan turun hujan di Arab Saudi, atau setidaknya turunnya hujan lebih inten pada musim dingin November sampai Januari. Kalau itu terjadi, Arab Saudi akan menjadi negeri yang rindang. (h salamun nurdin)

Anda dapat  saja mengatakan, mending belanja oleh-oleh haji di Indonesia karena di samping murah, resiko tak terangkut saat di Bandara Kepulangan Haji pun terhindari.

Namun pada kenyataannnya, sebagian jemaah haji lebih memilih berbelanja oleh-oleh haji di kota Jeddah. Walaupun sudah diwanti-wanti jangan berlebihan dalam berbelanja karena resiko barang tak terangkut. Sekali lagi, ini adalah semata-mata masalah kebiasaan masing-masing diri jemaah. Anda pilih yang Mana??? Jawabannya hanya ada pada diri Anda sendiri.

Berikut kisah tempat belanja di kota Jeddah, yang sering jadi “sasaran” jemaah haji asal Indonesia.

Balad, Ali dan Nur Murah Dibanjiri Jamaah

Suasana Tanah Suci saat ini agak berbeda dengan sebelum puncak haji atau selesai ritual Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armina), yang tuntas pada Senin (30/11).

Hiruk pikuk dan protes perebutan bus antaran pondokan ke dan dari Masjidil Haram, tidak lagi terdengar. Juga protes-protes soal buruknya fasilitas di pemondokan, soal katering, seolah terlupakan. Konsentrasi jamaah haji kini sudah mulai terbagi antara pulang dan mengejar pahala berlipat ganda.

Kalau semula para jamaah konsentrasi penuh pada ibadah haji, berlomba lomba dalam kebaikan, sambil mengejar pahala sholat di Masjid Nabawi dengan pahala 1.000 kali lipat, dan Masjidil Haram berkelipatan 100.000, ditandai bermacam protes kepada PPIH, suasana seperti itu hampir tidak ada lagi.

Memang sebagian jamaah berkunjung ke tempat tempat bersejarah. Masjid Nabawi bagi yang belum arbain, atau sekedar untuk sholat saja, Masjid Quba, Masjid Kiblatian, Jabal Rahmah, Jabal Nor, Jabal Uhud, Gua Hiro dan lainnya. Namun jumlahnya tidaklah seperti dulu, kini sudah berkurang jauh. Dan yang banyak justru ke jabal baru di Jeddah, yaitu “Jabal Balad”.

Nama “Jabal Balad” menjadi sangat populer bagi jamaah haji Indonesia, karena, jabal yang berarti gunung dan balad yang bisa diartikan sebuah kawasan atau kota, ini tidak lain sebagai pusat perbelanjaan mulai eceran sampai grosiran, dengan harga mulai kaki lima sampai kaum kantung tebal.

***

BALAD berada di kawasan jantung kota Jeddah; kota yang juga memiliki tempat bersejarah, misalnya Makam Siti Hawa, Masjid Terapung, Masjid Qisos, merupakan pasar yang cukup tua, dimulai sejak Bab (pintu) Makkah, yang banyak mangkal taksi khusus jurusan Makkah dengan pengemudi warga Arab Saudi.

Dalam beberapa tahun terakhir para pengemudi taksi ini disubsidi, diberi kendaraan untuk dicicil menjadi hak milik dengan harga murah. Dengan maksud bisa beraktivitas mengurangi migrasi ke kota Makkah yang sudah cukup padat (sekitar 1,4 juta-Red). Selain Jeddah sendiri sebagai kota internasional sudah berpenduduk sekitar 2 juta, belum termasuk pendatang yang sangat banyak.

Jamaah haji Indonesia yang akan pulang dan diterbangkan dari Jeddah, diberi kesempatan atau mendapat hak “city tour” tiga jam di kota ini karena punya waktu 24 jam. Mereka bisa memilih tempat-tempat bersejarah yang disebut diatas, termasuk paling banyak ke Balad.

Bahkan sebelum puncak haji pun, jamaah Indonesia yang tinggal di Makkah, sempat lebih dulu belanja ke Balad, karena pulangnya nanti lewat Madinah. Dan pada Sabtu (5/12) lalu pun jamaah yang kini berada di Makkah mencarter bis masing-masing membayar 50 riyal untuk belanja ke Balad.

Pasar Balad sendiri merupakan pasar yang sangat luas, karakteristiknya seperti pasar Tanah Abang, Jakarta. Barang-barang keperluan apa saja ada. Namun jauh lebih luas dan lengkap, selain pedagangnya datang dari berbagai penjuru dunia tetapi sudah menjadi warga negara Arab Saudi. Atau paling tidak mempunyai izin tinggal di negeri itu secara sah.

Barang-barang yang paling menonjol (paling laris) di sini adalah souvenir berupa tasbih, sajadah, minyak wangi, karpet (permadani). Bahkan emasnya dikabarkan sangat baik, setara dengan emas Inggris. Detil ukiranya hebat sehingga terkenal di penjuru dunia.

***

Dari ratusan bahkan ribuan tokok-toko di Pasar Balad, hanya dua yang paling dikenal jamaah Indonesia, yaitu toko Nor Murah dan Ali Murah. Dan ternyata tidak hanya jamaah haji, kedua tokoh ini juga langganan para pramugari Garuda Indonesia, ketika pesawatnya landing di Bandara KAA.

Kedua toko ini begitu terkenal, karena punya strategi jitu menjaring pelanggan. Kuncinya, tidak lain kumunikasi. Mereka bangun komunikasi jual beli. Mulai dari bahasa belanja, diperdalam dengan bahasa daerah. Mereka juga memasang pegawai dari daerah-daerah potensial.Memperkerjakan pegawai dari Makassar, Jawa Barat, Jawa Timur, NTB dan sebagianya.

Selain itu, seperti dituturkan Ali Murah, pria berkebangsaan Bangladesh ini, tidak mengambil untung banyak. Untuk sajadah misalnya, hanya ambil untung satu atau dua riyal. “Yang penting uang berputar, laba sedikit tidak masalah, terpenting pelanggah banyak,” katanya dengan basaha Indonesia yang lancar.

Ali sendiri sudah berpuluh tahun menggeluti usaha ini, diawali dengan belajar bersama keluarganya dan kemudian mandiri. Ali Murah pernah tinggal di Jakarta. Sekarang sudah punya cabang di Thamrin City, Jakarta, punya usaha Cargo di Halim Perdana Kusuma, Cabang di Cianjur, dan Jawa Timur. Selain di Dammam, Riyadh, Makkah, Madinah.

Berapa omsetnya setiap hari berdagang di Balad? Saat musim haji ini bisa 300 juta riyal sampai 400 juta riyal perhari. Sementara modal usahanya mencapai 3 miliar riyal. Dia sendiri memiliki tiga pabrik untuk mendukung usahanya tersebut. Untuk sewa tokonya dia harus keluarkan Rp500 juta riyal.

Hanya berjarak 50 meter dari toko ini kearah kiri, juga ada toko berlabel murah; Nor Murah. Pria yang juga asal Bangladesh ini, mengakui bahwa Ali Murah adalah karibnya. Di toko ini, dagangannya tidak jauh berbeda, ada minyak wangi, tasbih, sajadah, karpet (permadani) pakaian khas Arab Saudi dan lainnya.

Pelanggannya juga tidak jauh beda, mayoritas orang Indonesia, kemudian Filipina, Thailand, India, Pakistan Turki, Uzbekistan dan lainnya. Harga-harga dagangannya juga tidak jauh berbeda, bahkan relatif sama. Yang penting pelanggan harus pintar menawar. (h salamun nudrin)


Selama di Madinah dengan kondisi cuaca dan suhu yang dingin, jemaah Indonesia rawan penyakit inveksi saluran pernapasan atas (ISPA) berupa batuk-pilek dan flu ringan. ISPA ini bisa berbahaya apabila menyebabkan sesak napas, pnemonia dan inspeksi saluran pernapasan bagian bawah.

Oleh karena itu, jemaah diminta untuk memperkuat daya tahan tubuh dengan makan, minum dan istirahat yang cukup. Di samping itu, jemaah juga diminta banyak mengonsumsi buah-buahan dengan rasa manis, dan bukan yang asam seperti jeruk. Karena dengan perubahan cuaca dan suhu, keasaman dapat menyebabkan diare.

Namun sayangnya, menurut dr. Agus Setiawan, petugas kesehatan dari kloter 56 SOC Solo, buah yang disajikan oleh katering selama di Madinah lebih sering berupa jeruk dengan rata-rata jeruk yang rasanya asam. Hal ini akan membuat jemaah bisa mengalami diare. Oleh karena itu, dirinya meminta agar buah jeruk yang disajikan diganti dengan buah lain seperti apel atau pisang, agar jemaah bisa terhindar dari diare dan rata-rata buah di Arab Saudi rasanhya asam.

Menanggapi keluhan mengenai rasa buah jeruk yang asam ini, Kepala Daerah Kerja Madinah Cepi Supriatna menandaskan tidak menjadi masalah apabila harus menggganti buah jeruk dengan buah lain apabila buah jeruk memang membuat mudarat. Mengenai penggantian ini pihaknnya akan bekerja sama dengan katering untuk mengakomodir kepentingan jemaah. (MA Effendi)

Saat berada di Kota Madinah Al-Munawarah, jemaah haji Indonesia sesungguhnya mendapatkan jatah makan sehari tiga kali dengan menu Indonesia, ditambah buah-buahan dan minuman the, susu, serta kopi. Meskipun mendapatkan jatah makan yang cukup, sebagian jemaah yang gemar berwisata kuliner suka mencari makanan alternatif. Pagi hari, saat udara dingin mencapai 14 derajat Celsius, perut semakin merasakan lapar, meskipun sudah cukup makan.

Uang cekak tak menghalangi jemaah untuk makan jajanan di luar sarapan dari jatah yang dibagikan perusahaan katering. Sebelum fajar turun, sejumlah mobil boks dan kontainer besar sudah nongkrong di jalan utama masuk Masjid Nabawi. Mobil ini sengaja menghadang jemaah yang akan melaksanakan salat tahajud atau salat subuh berjamaah. Sejumlah petugas akan memberikan secara gratis setiap jemaah yang lewat.

Orang yang baik hati ini mengemas makanan pemberiannya dalam dus kecil yang berisi satu kotak jus jeruk, satu botol minuman sebesar setengah boto, sepotong kueh tawar dalam bentuk yang besar, sepotong kueh dengan aneka macam selai, satu jeruk, atau satu buah apel. Boks kecil ini dikemas dalam dus yang lebih besar berisi 10 boks kecil. Jemaah yang lewat boleh mengambil satu boks kecil atau boks yang besar sekaligus. Semua dengan cuma-cuma.

Selesai salat subuh, di salah satu pojok Masjid Nabawi juga terlihat antrean agak panjang. Setiap pengantre memegang satu gelas plastik. Di ujung antrean, seseorang memegang ceret berisi air teh panas. Antrean serupa ada di sebelahnya, sekitar 10 meter. Antrean yang satu sekadar teh, sedangkan antrean satunya lagi teh susu. Jemaah tinggal memilih mana yang paling suka di antara keduanya yang sama sekali tidak memungut bayaran. Inilah yang orang Arab bilang sebagai “Sabilillah.”

Kalau tak mau gratis, banyak pilihan makanan untuk sarapan pagi. Namun pada umumnya tidak ada nasi putih atau nasi kebuli. Hanya rumah makan Indonesia yang biasanya menyediakan sarapan berupa nasi dan lauk pauknya. Namun masyarakat Arab dan restoran di sekitar Madinah pada umumnya tidak menyiapkan sarapan nasi.

Orang Bangladesh di belakang hotel yang menjadi penginapan jemaah Indonesia menyiapkan martabak. Tapi, martabaknya berbeda dari martabak telor ala Mesir. Ia menggoreng tepung semacam kue cane, namun di atasnya disiram telor. Jadinya, kue cane dengan lauk telor dadar. Gerai sarapan pagi ini cukup laris, terutama jemaah asal India, Pakistan, dan Bangladesh.

Di sudut yang lain, jemaah mengerumuni penjual teh. Pada mulanya, the campur susu tidaklah lazim bagi bangsa Indonesia. Namun sekali mencicipi, teh celup yang dicampur susu menyebabkan jemaah ketagihan. Satu gelas teh harganya RS 1, kalau campur susu RS 2. Sebagian jemaah mencampur susu dengan kopi, sebagaimana lazim dilakukan di Indonesia.

Rumah makan khas Pakistan di Jln. King Fahd dalam beberapa hari terakhir selalu ramai di pagi hari. Rupanya, pedagang ini menyiapkan menu baru, saat melihat jemaah haji Indonesia tiba di Kota Rasul ini. Ia menyajikan nasi kebuli dengan dua warna, kuning dan putih. Sebagaimana khas Arab, satu porsi nasi seharga RS 3 cukup dimakan untuk dua orang Indonesia.

Selain nasi kebuli dua warna, mereka juga menyiapkan ayam sebesar seperempat ayam. Biasanya, nasi kebuli dilengkapi ayam minimal setengah ayam atau bahka satu ekor ayam. Tapi kali ini, pedagang RM Pakistan ini membuat sajian baru, ayam seperempat potong seharga RS 5. Maka, usai subuh para ibu-ibu jemaah haji antre panjang.

Makanan sekadarnya juga banyak disajikan pedagang untuk sarapan pagi. Seperti tepung yang dibuat bulat sebesar bola pingpong. Hanya ditaburi gula halus, mereka menjual lima butir seharga RS 1. Jemaah yang belum berminat makan nasi bisa memilih makanan ini sebagai alternatif. Di samping itu, pedagang ini menyiapkan juga donat dan kerupuk.

Jika ingin seperti orang Arab, jemaah bisa membeli tamis, yakni roti khas Arab yang lebarnya berdiameter lebih dari 40 cm. Meskipun besar dan lebar, satu roti tamis harganya hanya RS 1. Rupanya, inilah makanan rakyat Arab. Roti ini enak dimakan bersama selai yang diberikan sebagai bagian dari penyajian. Sebagian jemaah mamakan roti tamis ini dengan susu atau the panas. Silakan mau pilih yang mana? Pilih yang mana pun, yang penting pagi hari salat subuh dulu. (Wachu)

Jadwal kepulangan jamaah haji setiap tahunnya pasti ada yang mengalami keterlambatan. Ini wajar saja. Dikarenakan banyak hal yang mempengaruhi kesiapan pesawat untuk terbang mengangkut jamaah haji. Jadi bila kita mengalaminya, maka bersabarlah. Insya Allah Anda akan mendapatkan nikmat sekaligus hikmah dari kejadian tersebut.

Berikut Tips cara mengatasi keterlambatan pesawat saat kepulangan. Tips ini merupakan hasil pengamatan singkat selama bertugas di Bandara KAAI Jeddah tahun 2007. Bila Anda memiliki Tips yang lebih jitu, dan dapat melengkapi Tips ini, silahkan kirim melalui email kontak@fajar.info.tm. Insya Allah tambahan info Anda dapat memudahkan para calon tamu Allah di masa yang akan datang:

1. Penting untuk menyiapkan uang real receh secukupnya (20-50 real) saat kepulangan jamaah haji. Karena uang receh tersebut dapat untuk membeli makanan/minuman selama menunggu di bandara. Bila telah jelas terlambat dan anda lapar sedangkan makanan belum tersedia, maka izinlah pada ketua regu atau karom untuk membeli makan. Pastikan Anda hafal jalan kembali, jangan sampai nyasar ke tempat negara lai (kalau nyasar bertanyalah).

Di kantin bandara Anda dapat membeli juss, hamburger, nasi, buah, mie dll. Harga standar saja kok, sama dengan yang dijual di sekitar masjidil haram. Favorit kami saat bertugas di Bandara adalah Juss MIX, hamburger ayam, dan Nasi Briyani.

2. Tetap tenang dan bergembira. Ciptakan suasana yang bahagia di kloter Anda. Toh Anda sudah selesai berhaji, ujian berat telah Anda lewati. Kalau cuma menunggu mudah sajalah.

3. Membaca Buku atau lebih baik lagi membaca Al-Qur’an (berpahala).

4. Bila Anda lelah setlah lama “beristirahat” (…??), maka lakukanlah jalan-jalan ringan. Bicara atau ngobrollah tentang hal yang bermanfaat dengan para petugas yang melayani Anda dengan sepenuh hati, atau dengan sesama jamaah. Yang “Gayeng” dan bisa jadi cerita saat di Tanah Air, cobalah berbicara dengan para kuli angkut bandara. Suasana akan bertambah asyik bila Anda membawa PERMEN. Bila tak mampu berbahasa arab, gunakanlah kemampuan gerak Anda. Insya Allah mereka faham.

5. Hindari bertanya waktu keberangkatan pesawat berulang kali, hanya akan memusingkan Anda saja. Alih-alih, pikirkan apa yang akan dilakukan saat Anda berkumpul dengan keluarga Anda tercinta. Ini obat pelepas kesal saat jadwal pesawat tak sesuai dengan harapan.

6. Telpon atau SMS-lah keluarga Anda, agar mereka tenang, ceritakan hal-hal yang lucu dan menyenangkan. Ini obat untuk kekesalan Anda juga

7. Hematlah tenaga Anda, jangan sampai marah, karena percuma. Perjalanan pulang Anda masih cukupbutuh tenaga dan waktu yang lama. jadi hindari marah, apalagi marah sama petugas haji Indonesia. Salah alamat. Meraka tidak memiliki otoritas apapun di bandara, tidak bisa mempercepat kesiapan pesawat Anda. Tugas mereka di saat kepulangan adalah menemani Anda dan melepas bila pesawat telah siap.  Semoga bermanfaat

Sampai hari keempat pemulangan jemaah haji Indonesia, keterlambatan belum juga membaik. Bahkan semakin memburuk. Hal itu dialami oleh kloter 03 Batam, kloter 10 Surabaya, dan kloter 11 Surabaya. Mereka sama-sama menggunakan penerbangan Saudia Airline.

Jemaah kloter 3 Batam tertunda sekitar 18 jam. Sedianya mereka terbang 4 Desember pukul 21.05 WAS dan mendarat di Batam 5 Desember pukul 10.00 waktu setempat. Tetapi sampai pukul 12 WAS kemarin, mereka juga belum terbang. Menurut informasi, mereka baru bisa diterbangkan malam harinya dan mendarat di Batam Minggu pukul 4.25 waktu setempat.

Penundaan penerbangan itu mengganggu penerbangan kloter-kloter lain yang menggunakan pesawat Saudia. Yaitu kloter 10 dan 11 Surabaya. Kloter 10 sedianya terbang kemarin (5 Des) pukul 05.30 WAS dan tiba di Surabaya hari ini (6 Des) pukul 09.40 WIB. Sedang kloter 11 menurut jadwal terbang pukul 08.00 dan mendarat pukul 22.20 WIB.

Pihak Saudia Airline memberi ancar-ancar mereka akan diterbangkan antara pukul 17.00-21.00. Selama itu, mereka menunggu di bandara. Padahal, jemaah sudah berada di bandara pukul 24.00.

Sampai pukul 12.00 kemarin berarti mereka sudah 12 jam menunggu di bandara. Sesuai ketentuan penerbangan internasional, mestinya mereka sudah diinapkan di hotel. “Kami baru diberi roti dan minum sekitar pukul 10.00,” kata Ketua kloter 10 Moch Maghfur Chatim.

Mestinya makanan ringan diberikan apabila penerbangan mengalami penundaan dua jam. Apabila penundaa empat jam penumpang diberi makan. Dan, apabila sampai enam jam, penumpang harus diinapkan di hotel. Semua itu merupakan tanggung jawab pihak penerbangan.

PanitiaPenyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi sudah menjembatani. Penumpang akan diberi makan. Bahkan penumpang hendak dibawa ke hotel. Tetapi, banyak anggota kloter yang tidak mau. “Yang kami butuhkan bukan makan dan bukan pula hotel. Kami butuh pesawat,” kata salah seorang jemaah.

Kepala Daerah Kerja Jeddah Subhan Cholid mengaku pihaknya sudah berkali-kali menyampaikan tawaran tersebut kepada jemaah. Tetapi, tawaran tersebut ditolak. Pihaknya pun tidak bisa berbuat apa-apa . Siang itu pihaknya terus menjalin komunikasi antara jemaah dengan pihak Saudia. Sebagian jemaah menginginkan ada makan siang dan diistirahatkan di hotel. Namun sebagian lainnya tetap ngotot di bandara.

Khoirul Azmi berharap paling tidak jemaah diberi makan. Sebab,makanan ringan yang diberikan tidak cukup. Bahkan banyak jemaah yang belum memakan roti yang diberikan kepadanya. Makan itu diangap bisa menghibur kegelisahan jemaah. Sebab waktu terbangnya pun belum pasti.(baehaqi)

Penyakit rutin bagi setiapjamaah haji antara lain adalah Nasofaring akut. hampir boleh dikata, semua jamaah haji mengalaminya. Ada seloroh begini: Yang tidak batuk saat haji khan cuma Onta saja..??. Ada-ada saja.

Berikut beritanya:

Mayoritas jemaah haji Indonesia terserang Nasofaringitis akut. Penyakit ini selalu menempati urutan pertama dari sepuluh besar jenis penyakit yang menyerang jemaah setiap musim haji beberapa tahun terakhir. Khusus tahun 2009, Nasofaringitis akut menyerang 38,21% jemaah haji yang melakukan kunjungan rawat jalan dan rawat inap pada Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI), di Arab Saudi.

Ketua Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) Dr. dr. Barita Sitompul, Sp.SJ, di Arab Saudi, Jumat (4/12) menjelaskan, puncak penyakit Nasofaringitis terjadi pada saat Armina. Hal ini disebabkan karena terjadi penumpukan jemaah dalam jumlah besar dari berbagai negara pada saat yang sama, sehingga menimbulkan kelelahan, yang menyebabkan turunnya daya tahan tubuh. Kondisi ini akan memudahkan terjadinya penularan virus dari orang ke orang melalui udara, makanan, air maupun media lain.

“Mencegah penularan virus Nasofaringitis dapat menggunakan masker yang dilembabkan dengan alkohol, memanfaatkan waktu seoptimal mungkin untuk istirahat, sebanyak mungkin minum air putih, termasuk membawa bekal air minum saat bepergian, memperbanyak makanan berserat (sayuran dan buah) dan sesering mungkin cuci tangan pakai sabun atau menggunakan tisu basah,” kata Barita. (Chu)

Warga yang belum memperoleh kesempatan menunaikan ibadah haji sampai kini tidak perlu kecewa, karena pemerintah Arab Saudi terus membangun prasarana dan melengkapi fasilitas peribadatan demi kelancaran dan kenyamanan jemaah yang akan menunaikan Rukun Islam kelima itu.

Mulai musim haji 1431H (2010), angkutan monorel yang menghubungkan Kota Suci Mekah dan lokasi peribadatan haji di Mina, Muzdalifah dan Mekah direncanakan sudah akan beroperasi, sehingga pemeritah Arab Saudi dan jemaah calon haji tidak akan dipusingkan lagi oleh kemacetan lalu-lintas yang terjadi sepanjang musim haji dari tahun ke tahun.

Bayangkan, untuk menempuh jarak enam kilometer dari Mina ke Masjidil Haram di Mekah saja, diperlukan waktu tiga sampai lima jam untuk menembus kemacetan lalu-lintas di jalan akses yang harus dilewati.

Pemerintah setempat bukan tidak berupaya mengatasi kemacetan lalu-lintas dengan membangun sejumlah terowongan (underpass) dan jembatan layang (flyover), tetapi pada saat tiga juta umat muslim tumplek berbarengan pada musim haji, memang hampir mustahil untuk menghindari hambatan ini.

Akibatnya, ratusan ribu jemaah usai melontar jamrah di Mina, lebih memilih berjalan kaki ketimbang naik kendaraan, ke Masjidil Haram untuk melakukan Tawaf dan Sai atau sebaliknya, menuju Mina seusai Tawaf dan Sai di kompleks Masjidil Haram.

Melontar Jamrah dan Tawaf (Mengitari Kabah tujuh kali) serta Sai (berjalan dan lari-lari kecil antara Bukit Safa dan Marwah) wajib hukumnya dalam ibadah haji, jika tidak dikerjakan, harus membayar dam atau denda berupa ternak kurban.

Pada tahun pertama (2010), menurut Wakil Menteri Urusan Perkotaan dan Pedesaan Habib Zein Al-Abidin, monorel direncanakan untuk mengangkut setengah juta orang selama pengoperasian antara enam sampai delapan jam sehari.

Kehadiran sistem angkutan monorel sekaligus juga akan menandai berakhirnya penggunaan sekitar 30.000 unit bus-bus dan kendaran-kendaraan kecil lain yang digunakan untuk layanan angkutan jemaah haji selama ini.

“Angkutan monorel akan menekan beban masalah lalu-lintas di lokasi-lokasi peribatahan haji dan mempercepat calon haji tiba di tujuan dan lebih nyaman,” tutur Habib Zein. Jika proJek ini dinilai berhasil, jaringan angkutan monorel akan dikembangkan terus di luar lolasi-lokasi peribadatan haji.

Studi Kelayakan juga sedang dilakukan untuk memperluas jaringan monorel ke stasiun dekat Masjidil Haram, Mekah yang menghubungkan kedua Kota Suci, Mekah dan Madinah ( berjarak sekitar 420 Km). Saat ini diperlukan waktu lima sampai tujuh jam berkendaraan bus untuk mencapai Mekah dari Madinah atau sebaliknya.

ProJek bernilai multi milyaran Riyal (tahap pertama SR 6,7 milyar atau sekitar Rp167,5 triliun) yang merupakan kerja sama antara Arab Saudi dan China dirancang untuk mengangkut lima juta penumpang.

Proyek di Armina

Selain membenahi sistem transportasi, pemerintah Arab Saudi juga terus menambah dan meningkatkan prasarana dan fasilitas layanan haji di ketiga tempat peribadatan yakni di Padang Arafah, Mina dan Muzdalifah (Armina). Padang Arafah (sekitar 7 Km dari Mina) adalah lokasi Wukuf yang merupakan puncak ritual haji atau wajib dikerjakan, jika tidak, tidak sah hajinya.

Acara melontar jamrah saat ini juga sudah jauh lebih nyaman, tidak perlu berdesak-desakan lagi karena bisa dilakukan dari jembatan jamarat berlantai lima dengan akses jalan masuk sepanjang 950 meter dengan luas 80 meter.

Tragedi yang terjadi pada 1990 yang merenggut lebih 1.400 jemaah termasuk sekitar 650 calon haji Indonesia saat saling berdesakan di terowongan Mina menuju jamarat diharapkan tidak terulang kembali dengan rampungnya pembangunan jembatan jemarat berlantai lima.

Jembatan jamarat dapat diakses melalui tiga terowongan, 11 jalan masuk dan dua belas jalan keluar (searah) dan dilengkapi dengan mesin-mesin pendingin (AC) raksasa untuk mempertahankan udara agar tidak lebih dari 29 derajat Celcius.

Bahkan melontar jamrah dari tingkat lima, cukup lengang, padahal ratusan ribu calon jemaah haji sedang melontar jamrah di empat jembatan di lantai-lantai di bawahnya. Sekitar tiga juta jemaah haji yang datang secara bergelombang antara 10 sampai 13 Zulhijah seolah-olah tertelan luasnya jembatan dan jalan akses keluar maupun masuk menuju jembatan jamarat.

Aliran arus jemaah dengan tertib melenggang, masuk-keluar jembatan jamarat di lantai satu sampai lantai lima melalui jalan-jalan akses yang lega ke masing-masing lantai. Jembatan jamarat didisain agar bisa dikembangkan lagi sampai 12 lantai untuk menampung sekaligus lima juta jemaah yang akan mengikuti ritus melontar jamrah dan dilengkapi dengan menara helipad. Jembatan jamarat juga dilengkapi lift, escalator dan tangga-tangga darurat.

Sementara kawasan Mina seluas 650 hektare yang digunakan sebagai lokasi perkemahan jemaah juga terus dibangun dan dikembangkan untuk meningkatkan kenyamanan jemaah. Nantinya sebagian jemaah tidak perlu menginap di tenda-tenda lagi jika pembangunan ratusan menara apartemen berlantai 12 yang mampu menampung satu juta jemaah rampung, menambah enam menara berkapasitas 20.000 jemaah yang saat ini sudah siap huni.

Mengenai akses jalan dari Mekah menuju Mina saat ini telah tersedia 25 terowongan,41 jembatan dan jembatan layang dengan panjang 70Km. Kawasan Mina dan Mekah saat ini sudah tidak berjarak (saling berdampingan) akibat pesatnya pembangunan di kedua kawasan.

Bila jemaah sakit, tersedia tiga rumah sakit besar di kawasan Mina, belum termasuk posko-posko kesehatan yang dibangun oleh negara yang banyak mengirimkan jemaah seperti Indonesia dengan balai-balai pengobatan haji (BPHI).

Delapan rumah jagal berkemampuan l,5 juta hewan, juga disediakan di Mina untuk memenuhi hewan kurban atau pembayaran denda pelanggaran ibadah haji (dam). (Nanang Sunarto)

Anda gagal berangkat haji tahun 1430 H ini akibat keterbatasan kuota? Jangan bersedih dan jangan menyesal. Justru kalau tahun ini berangkat, maka Anda tidak melihat Masjidilharam “baru” yang amat sangat luas dengan sistem real estate terpadu yang luar biasa. Sebab, tahun ini, projek perluasan Masjidilharam masih dalam proses pengerjaan. Baru sepuluh tahun ke depan, projek besar pembangunan Kota Mekah Al-Mukaramah selesai dibangun. Namun setidaknya, Masjidilharam bersama pembangunan sekitarnya sudah dapat dilihat hasilnya pada musim haji 1431 H.

Projek besar pembangunan Kota Mekah merupakan keniscayaan. Sebab, setidaknya tiga juta orang datang ke kota ini setiap musim haji, dan beberapa kali lipat lagi jumlah jemaah umrah sepanjang tahun. Padahal, kapasitas Masjidilharam hanya mampu menampung sekitar satu juta orang. Itulah sebabnya, penyelenggaraan haji selalu ruwet dipusingkan oleh perumahan dan pemondokan yang kurang, transportasi yang terbatas, tempat ibadah yang sempit, dan problem sosial lain sebagai ikutan dari membludaknya jemaah.

Keputusan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi yang akan membangun projek raksasa senilai RS 50 miliar (RS 1 kurang lebih setara dengan Rp 2.600,00) adalah tepat. Karena untuk mengatasi sempitnya areal ibadah adalah dengan cara memperluasnya. Persoalannya, selama ini, lingkungan Masjidilharam penuh sesak dengan hotel dan penginapan, dari hotel bintang lima yang sangat mewah, hingga bangunan lama peninggalan zaman syeikh. Tempat ini mampu menampung sekitar sejuta jemaah.

Tidak peduli. Keputusan Pemerintah Arab Saudi adalah untuk dilaksanakan, bukan diwacanakan. Berapa pun besarnya nilai hotel dan perumahan serta tanah yang ada di sekitar Masjidilharam diganti. Setidaknya, 1.000 hotel dan rumah yang berada di Syamiya, sisi utara Masjidilharam diruntuhkan. Para pemiliknya mendapatkan ganti rugi tak kurang dari RS 6 miliar. Di sisi timur Masjidilharam yang sebelumnya dikenal dengan Pasar Seng dibangun projek perluasan ke Jabal Khandama seluas 150.000 meter persegi.

Jabal (Bukit) Omar yang terletak di sisi barat daya Masjidilharam segera diratakan dengan cara merobohkan bangunan yang ada serta meruntuhkan gunung, kemudian digali dan dipancangkan foundasi. Lokasi ini akan dibangun komplek perumahan dan hotel serta pusat belanja. Selain itu, tempat ini juga akan dibangun tempat perluasan tempat salat yang mampu menampung 120.000 orang. Di bagian tenggara Masjidilharam, di sekitar Rumah Sakit Ajyad, segera dibangun rumah sakit modern dan pusat kesehatan yang dilengkapi fasilitas gawat darurat.

Dengan pembangunan projek raksasa ini, diharapkan sebagian besar jemaah yang terus bertambah dapat tertampung di sekitar masjid. Di samping itu, kapasitas Masjidilharam dapat terus meningkat hingga mampu menampung semua jemaah yang datang. Mereka tidak lagi melaksanakan salat di emperan toko atau di jalan-jalan yang menyambung ke masjid. Tapi setidaknya, mereka dapat melaksanakan salat di masjid perluasan Masjidilharam yang ada sekarang.

Akibat pembangunan raksasa ini, jemaah haji yang tengah beribadah di Masjidilharam mendengar gemuruh pembangunan Masjidilharam yang terus berjalan sepanjang 24 jam. Di luar jam salat, jemaah yang melaksanakan ibadah di seputar Masjidilharam dapat menyaksikan puluhan mobil becho sedang meruntuhkan gunung Syamiya. Ratusan truk hilir mudik mengangku batu dan tanah bekas galian. Gunung batu keras yang tadinya menjulang kini digali semakin dalam untuk pembuatan foundasi. Namun di atas sisa gunung yang masih menjulang berdiri ratusan rumah dan hotel yang sudah dikosongkan dari penghuninya. Pemandangan yang sangat dramatis.

Pasar Seng yang dulunya selalu menjadi tempat favorit jemaah Indonesia berbelanja, saat ini menjadi tempat terbuka. Namun belum terlihat ada bangunan. Hanya puluhan kios yang memberikan layanan potong rambut masih berdiri berjejer, namun sifatnya tidak permanen. Bangunan ini setiap saat bisa digusur. Tidak ada lagi toko yang menjajakan tasbih, tas, pakaian, jam, dan barang elektronik seperti di masa lalu, hanya beberapa bagalah (warung) yang menjajakan minuman yang masih berdiri dengan bangunan yang tidak permanent. Toko yang dulu sangat meriah kini mundur ke belakang, sebagaimana jemaah haji juga mundur tempat tinggalnya.

Jabal Omar yang terletak di sekitar Istana Raja belum mengalami pembongkaran. Namun wilayah ini sudah terlihat lesu. Sebab, hotel dan penginapan yang tinggi menjulang sudah tidak ada penghuninya lagi. Mereka tinggal menanti setiap saat diruntuhkan. Memang rumah dan hotel ini masih terlihat ada satu atau dua orang penjaga, namun kamar dan bangunan di bagian atas tak lagi terlihat nyala listrik. Gelap gulita.

Menutut sejumlah mukimin yang tinggal di Mekah, di luar musim haji, gedung dan perhotelan yang besar diruntuhkan menggunakan dinamit. Dengan tingkat keamanan yang sangat tinggi, gedung-gedung itu diruntuhkan dalam hitungan menit tanpa menimbulkan kerusakan pada lingkungan. Tembok dan atap bangunan seperti kompak runtuh ke dalam, seperti tanaman yang layu. Puluhan kendaraan becho kemudian mengeruk bekas bangunan. Dengan truk, bekas bangunan itu diangkut ke luar Kota Mekah.

Pembangunan perluasan Masjidilharam yang “gila-gilaan” ini sepertinya sudah dihitung secara detail tentang peluang pencemaran lingkungan. Karena pembangunan ini bagaimanapun akan menyebabkan debu berterbangan ke mana-mana, bahkan berpeluang masuk ke Masjidilharam saat jemaah sedang padat-padatnya. Namun pada kenyataannya, setiap batu dan tanah yang dikeruk selalu diikuti dengan siraman air, sehingga debu itu tidak sempat terbang ke udara, kecuali sedikit.

Di pinggir pembangunan projek perluasan di bagian Syamiyah ini berdiri juga puluhan bagalah yang menyediakan makan dan minum bagi jemaah haji, baik makanan khas Arab, Pakistan, Turki, bahkan masakan Indonesia. Sembari menikmati jajanan dan minuman, jemaah haji dapat menyaksikan bagaimana secara perlahan mobil peralatan berat itu meruntuhkan gunung batu yang amat keras dengan mudah.

Ring Dua

Projek pembangunan perluasan Masjidilharam inilah yang menjadi penyebab utama mengapa jemaah haji selama dua tahun terakhir ini mengalami pergeseran tempat tinggal. Jika di masa lalu sebagian jemaah bisa tinggal di penginapan yang jaraknya antara 50 meter hingga 1.000 meter dari Masjidilharam, sekarang tidak bisa lagi. Paling dekat, jemaah tinggal satu kilometer dari Masjidilharam, karena projek perluasan masjid ini rata-rata seluas radius satu kilometer itu dari masjid.

Maka akibatnya, sekitar 50.000 jemaah haji Indonesia yang biasanya tinggal di sekitar Masjdilharam harus tergusur. Perumahan di masa lalu yang disebut sebagai Ring II, kini berubah menjadi Ring I, sedangkan Ring III di masa lalu, kini menjadi Ring II. Namun jemaah haji yang mengalami penggusuran tempat tinggal ini tidak hanya dialami jemaah Indonesia. Jemaah haji dari negara lain yang memiliki jemaah dalam jumlah yang banyak juga menempatkan mereka di wilayah yang jauh hingga berjarak 10 km.

Maka di wilayah yang jauh tersebut, selain jemaah Indonesia, terlihat jemaah asal Turki. Mereka juga menggunakan kendaraan jemputan saat pergi maupun pulang dari Masjidilharam, sebagaimana jemaah haji Indonesia. Meski demikian, sebagian dari mereka melaksanan salat sehari-hari di masjid di lingkungan mereka tinggal. Maka masjid bagus dan besar yang salam ini sepi, menjadi semakin hangat dengan meningkatnya jemaah tersebut.

Hanya istana raja yang digunakan untuk guest house yang tidak digusur beserta sejumlah hotel raksasa di sampingnya yang masih berdiri tegak. Hotel inilah yang digunakan jemaah haji biaya perjalanan ibadah haji (BPIH) khusus. Kelihatannya, hotel ini merupakan bagian dari megaprojek perluasan masjid, sehingga mereka tidak tergusur, bahkan terus disempurnakan bangunannya hingga tinggi menjulang.(Wachu)

« Newer Posts - Older Posts »